Waspada Risiko Produksi Baterai Mobil Listrik

14 Okt 2021, 13:16:12 WIBTeknologi
Waspada Risiko Produksi Baterai Mobil Listrik

Pada 15 September 2021, Presiden Joko Widodo meresmikan peletakan batu pertama untuk pembangunan pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat. Pabrik baterai ini diklaim sebagai pabrik baterai pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Pengguna kendaraan listrik di Indonesia akan mencicipi baterai dari pabrik ini setelah produksi baterai dimulai pada 2023. Situasi ini tentu menjadi angin segar bagi industri kendaraan listrik di Indonesia.

Keterlibatan Presiden Joko Widodo tersebut jelas menggarisbawahi niat pemerintah dalam penerapan kendaraan listrik di Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam mendukung teknologi mutakhir ini. Langkah konkret ini mencakup dukungan kebijakan dan insentif produksi komponen kendaraan listrik termasuk baterai.

Baterai merupakan salah satu komponen paling krusial pada kendaraan listrik. Pentingnya baterai pada kendaraan listrik bisa dibilang setara dengan keberadaan tangki bahan bakar pada kendaraan berbahan bakar fosil. Tanpa baterai, kendaraan listrik praktis tidak dapat beroperasi. Pengaruh penting ini pun makin dibuktikan dengan besar biaya komponen baterai yang bisa mencapai 35 - 50% dari total biaya kendaraan listrik.

Baca Lainnya :

Kecacatan produk baterai bisa diminimalisasi dengan penjagaan kualitas produk secara ketat. Tetapi, produksi baterai yang fokus pada kendaraan listrik baru akan dimulai di Indonesia. Produksi baterai tersebut jelas belum dapat teruji baik secara mutu maupun keselamatan. Pada fase awal produksi baterai, menaruh syak soal kualitas produk tentu bukan hal yang aneh. Peran evaluasi dan pengawasan pada produksi baterai perlu dilakukan oleh para pengambil kebijakan agar risiko kecacatan produk baterai makin minim.

Selain itu, proses produksi baterai dari hulu hingga hilir membutuhkan penanganan limbah yang ketat. Bahan baku baterai membutuhkan bijih nikel yang diambil dari proses penambangan. Pelaksanaan penambangan nikel ini acapkali mengabaikan dampak lingkungan. Proses dan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada izin penambangan seakan menjadi proses administrasi semata.

Segala dampak dari proses penambangan nikel yang sembarangan pun tidak main-main. Proses penambangan nikel dapat menyebabkan pelepasan logam yang berbahaya bagi kesehatan (Prematuri, 2020). Hal ini juga berdampak pada perubahan yang signifikan terhadap karakteristik tanah baik secara fisik maupun secara kimia. Dampak yang paling terlihat tentu kemunculan berbagai macam polusi, seperti kepulan asap sulfur dioksida dan limbah asam dari proses penambangan nikel.

Ketakutan akan limbah produksi baterai bahkan telah menjadi nyata di Indonesia. Desa Buli di Kecamatan Maba, Halmahera Timur, sudah menjadi korban keserampangan penambangan nikel. Timbunan sedimentasi limbah dari penambangan nikel di daerah tersebut tidak tertangani dengan baik. Alhasil, ekosistem di sekitar lokasi penambangan itu hancur lebur. Biota laut termasuk ikan kembung menjadi tidak layak tangkap. Kondisi ini jelas merugikan bagi warga Desa Buli.

Lanjutkan Membaca ke hal.2 >>




Berita Populer

kanan - bataroster.com
+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook