Kilas Balik : Wajah Islam di Jawa Pasca Tragedi G-30-S PKI

18 Jun 2020, 12:24:07 WIB Politik
Kilas Balik : Wajah Islam di Jawa Pasca Tragedi G-30-S PKI

Sengit dan berdarahnya pertarungan umat Islam (santri) melawan komunis yang terindikasi mulai terjadi pada awal 1920-an kemudian memuncak pada peristiwa berdarah, yakni meletusnya tragedi G-30-S/PKI di 1965.

Setelah itu, di Jawa Tengah dan Timur dalam tiga bulan ke depan terjadi peristiwa pembunuhan hebat. Rakyat konflik tak terkendali. Saling babat. Muslim yang dibantu tentara angkatan darat, yang oleh sejarawan MC Ricklefs disebut semenjak Pemberontakan PKI Madiun 1948 sangat antikomunis karena merasa mereka menusuk negara dalam situasi sangat genting, kala itu melakukan pembersihan besar-besaran kepada para pengikut PKI.

Baca Lainnya :

Pada saat yang sama rezim Sukarno lumpuh. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak 1 Oktober 1965 kekuasaannya menjadi tumpul. DN Aidit yang melarikan diri ke Jawa Tengah dengan naik kapal udara dari lapangan terbang Halim Perdanakusuma tak lama kemudian tertangkap. Begitu juga elite-elite gerakan penculikan para jendral seperti Untung pun tertangkap dalam sebuah pelarian di Jawa Tengah. Bahkan, dia tertangkap lebih dahulu daripada Aidit.

"Ya saya suasana saat itu kayak perang sipil dengan wild west-nya di Amerika Serikat. Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti wilayah yang tak bertuan. Rakyat masing-masing mempersenjatai diri karena pertarungan sudah antara hidup dan mati," kata DR Nastir Tamara ketika bercakap soal suasana waktu itu di Jawa.

Uniknya, memang kemudian umat Islam "menang" dalam pertarungan berdarah itu. Namun, di balik itu pada sisi lain mereka juga menerima "kekalahan" atau imbas buruk, terutama dari sentimen anti-Muslim yang selama ini disebarluaskan oleh kader PKI. Banyak kemudian akibat tragedi itu kaum 'Islam minimalis' (abangan) —atau mungkin hanya pihak yang ikutan terimbas dengan sekedar dituduh pengikut PKI—pindah agama. Ini sesuai dengan apa yang ditulis kajian asing Robert Crib yang mengkaji soal peristwa di sekitar tragedi tahun 1965.

Apa yang ditulis Robert Crib ini bersesuaian dengan kajian yang dilakukan Direktur Pusat Studi Peradaban Islam/PSPI Solo, Arif Wibowo, (Republika, 17 September 2015). Menurut dia, meskipun PKI mengalami kekalahan pada Pemberontakan 1965, bukan berarti umat Islam tidak menderita kerugian.

Lanjutkan Membaca ke hal.2 >>




Sekilas Info

COVID-19 Indonesia Hari Ini

  • Positif : 392.934
    Sembuh : 317.672
    Meninggal : 13.411
    Dirawat : 61.851

Berita Populer

kanan - bataroster.com
Hosting Unlimited Indonesia



+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook