Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Rapor Rupiah Sepekan Jelang Lebaran, Sempat ke Level Terburuk Sejak Krisis 1998

Maret 28, 2025 Last Updated 2025-03-28T07:33:10Z


Mata uang rupiah mengalami pelemahan pada sepekan perdagangan jelang Lebaran. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh level terburuk sejak krisis moneter 1998.


Berdasarkan data Bloomberg, rupiah memang menguat 0,15% atau 25,5 poin ke posisi Rp16.562 per dolar Amerika Serikat (AS) saat penutupan perdagangan kemarin, Kamis (27/3/2025). Pada saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,07% ke level 104.474.


Namun, dalam sepekan perdagangan terakhir jelang momen Lebaran, rupiah tercatat lesu. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,36% dalam sepekan perdagangan 21-27 Maret 2025.


Rupiah bahkan sempat ambrol pada pekan ini, ke level Rp16.642 per dolar AS yang merupakan level terlemahnya sejak krisis keuangan pada Juni 1998. 


Adapun, rupiah telah merosot lebih dari 3% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di pasar negara berkembang.


Pengamat forex Ibrahim Assuaibi mengatakan terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah. Dari luar negeri, Presiden AS Donald Trump pada pekan ini telah mengumumkan pengenaan tarif sebesar 25% pada semua mobil dan suku cadang impor, yang berlaku mulai 2 April 2025. 


"Pasar dengan hati-hati menilai potensi dampak tarif ini, karena dapat menyebabkan implikasi ekonomi yang lebih luas yang memengaruhi permintaan minyak dan stabilitas pasar," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (27/3/2025).


Dari dalam negeri, Bank Dunia melaporkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan kinerja pengumpulan pendapatan pajak terburuk di dunia. Rasio pendapatan pajak Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) disebut termasuk yang terendah. Informasi ini dinilai sebagai sinyal bagus untuk pemerintah dalam melakukan pembenahan di perpajakan secara berkala.  


Currency Strategist Bank of Singapore Moh Siong Sim menilai pelemahan nilai tukar rupiah terjadi sejak akhir tahun lalu, terutama karena pasar Indonesia kehilangan daya tariknya di mata investor global. Kondisi ini didorong oleh kekhawatiran atas langkah-langkah ekonomi Presiden RI Prabowo Subianto serta kekhawatiran perluasan peran militer dalam masyarakat sipil. 


Langkah-langkah kebijakan populis Prabowo sejak dilantik pada Oktober 2024 termasuk program makan bergizi gratis yang menyedot anggaran hingga US$30 miliar per tahun. Terbaru, APBN defisit mendekati batas ketentuan yakni 3% dari produk domestik bruto (PDB). 


"Kekhawatiran fiskal kemungkinan akan membebani mata uang," kata Moh Siong Sim dilansir Bloomberg pada beberapa waktu lalu (25/3/2025).


Selain itu, terdapat kekhawatiran terjadinya repatriasi pembayaran dividen musiman oleh investor asing di pasar modal.


Pelemahan nilai tukar rupiah juga terjadi seiring dengan lesunya pasar saham Indonesia, di mana telah tercatat arus keluar dana asing lebih dari US$2 miliar. Obligasi Indonesia juga berkinerja lebih buruk daripada obligasi pemerintah AS tahun ini.


"Pasar ekuitas yang gelisah, kekhawatiran yang berkelanjutan tentang lintasan defisit, dapat memperburuk volatilitas rupiah jangka pendek," kata Senior APAC Market Strategist BNY Wee Khoon Chong.

×