BataraNews.com – Kodam IV Diponegoro berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah mendalami kebenaran Keraton Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo yang mengklaim sebagai kerajaan penguasa penerus Majapahit.

Kodam juga akan melakukan kordinasi dengan Polda Jawa Tengah bila mendapati adanya pelanggaran hukum, termasuk kemungkinan adanya upaya mendirikan pemerintahan sendiri atau makar yang dilakukan Keraton Agung Sejagat.

“Kalau soal makar, kita belum sampai ke situ. Kan pastinya berkoordinasi dengan Polri yakni Polda Jawa Tengah. Kita cek semua dulu,” kata Kepala Staf Kodam IV Diponegoro Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa usai menghadiri acara syukuran ulang tahun Penerangan TNI Angkatan Darat di Markas Kodam IV Diponegoro Watugong, Semarang, Selasa (14/1).

Teguh menyatakan, serupa polisi, TNI pun sudah mendapatkan semua informasi mengenai keberadaan Keraton Agung Sejagat. Tapi, sambungnya, itu tetap harus dilakukan pemeriksaan khusus terlebih dulu sebelum sampai pada kesimpulan tertentu.

“Kami sudah menerima semua informasi, termasuk foto dan videonya. Kami akan cek dulu kebenarannya, untuk kemudian melakukan tindakan apa,” ujar Teguh Muji.

“Kita bentuk tim khusus dan hari ini berangkat ke Purworejo untuk melakukan pendalaman. Kita lihat ada motif apa di dalamnya, termasuk tentang aspek sejarah, aspek legalitas, aspek sosial, aspek kultural,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel di Semarang.

Budi mengatakan pihaknya akan meneliti apakah ada unsur makar atau memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diniatkan pendiri dan pengikut keraton tersebut.

“Kalau perbuatan dan kegiatan tersebut bertujuan memisahkan diri dari NKRI kita jerat dengan pasal makar 106 KUHP,” ujar Budi.

Sebelumnya, heboh mengenai Keraton Agung Sejagat yang berada di Desa Pogung Jurutenga, Kecamatan Bayan, Purworejo dari akhir pekan lalu. Kehebohan itu muncul setelah video rekaman wilujengan dan kirab budaya keraton tersebut viral pada Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).

Joyodiningrat mengklaim perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan Dyah Ranawijaya sebagai penguasa Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518

Joyodiningrat menyampaikan dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan barat–didominasi Amerika Serikat– yang mengontrol dunia setelah Perang Dunia II dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Keraton Agung Sejagat, dipimpin seseorang yang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja. [cnnindonesia]