BataraNews.com – Sidang perdana Dede Lutfi Alfiandi (LA), demonstran pembawa bendera merah putih dalam aksi pelajar di salah satu gelombang demo tolak RKUHP dan RUU kontroversial lain di depan DPR pada September lalu dijadwalkan menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/12).

Lutfi merupakan salah satu demonstran yang terlibat dalam aksi pelajar sekolah menengah di depan gedung DPR pada 30 September yang ditangkap polisi. Ia lebih dikenal karena foto pemuda usia 20 tahun saat menggenggam bendera Merah Putih untuk menghindari gas air mata polisi tersebut viral di media sosial.

Dia didakwa pasal berlapis yakni Pasal 212 KUHP juncto Pasal 214 KUHP atau Pasal 170 ayat 1 KUHP atau Pasal 218 KUHP.

Pasal 212 mengatur pidana bagi setiap orang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan pejabat yang menjalankan tugas dengan ancaman pidana maksimal 1 tahun empat bulan. Pasal 214 ayat 1 berbunyi paksaan dan perlawanan berdasarkan Pasal 211 dan 212 jika dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.

Pasal 170 KUHP mengatur tentang kekerasan terhadap orang atau barang dengan ancaman beragam mulai dari maksimal 5 tahun enam bulan hingga 12 tahun, dan Pasal 218 KUHP mengatur mengenai barang siapa yang dengan sengaja tidak pergi setelah diperintah tiga kali, saat ada kerumunan. Keikut sertaan itu diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan dua minggu.

Sidang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, pada Kamis (12/12/2019).

“Minta doa untuk sidang ini,” ujar Lutfi di ruang sidang PN Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

Dia sempat menangis, memeluk erat, lalu mencium kening ibunya yang bernama Nurhayati.

Nurhayati meyakini anaknya tak bersalah dan dapat terbebas dari kasus tersebut.

“Harapan saya bebas,” ujar Nurhayati.

Sementara itu, di ruang sidang, pengunjung sidang berteriak meminta agar Luthfi dibebaskan.

“Bebaskan Lutfi,” kata para pengunjung.

Kuasa hukum Lutfi dari LBH Kobar, Sutra Dewi mengatakan kliennya dijerat hukum lantaran aksi pada 25 September 2019. Namun, polisi menangkap LA pada Senin 30 September 2019. Selanjutnya, sambung Sutra, polisi menahan kliennya sejak Selasa 1 Oktober 2019.

Lutfi sempat ditahan di Polres Jakpus sebelum dipindahkan ke Rutan Salemba.

Berkas kasus Lutfi itu dinyatakan lengkap atau P21 dan dilimpahkan ke kejaksaan pada Senin, 25 November 2019.

Adapun pernyataan jaksa dalam hal kasus Lutfi Alfiandi adalah ia disebut-sebut merusak fasilitas umum seperti pot bunga hingga pembatas jalan. Polisi memberi peringatan lebih dari tiga kali kepada massa untuk membubarkan diri dan tidak anarkis. Bahkan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Herry Kurniawan memerintahkan langsung agar pendemo bubar. Namun peringatan itu tak diindahkan Luthfi dan teman-temannya. Bahkan, massa semakin brutal melempar batu ke arah petugas keamanan.

“Terdakwa terus melempar ke arah polisi dengan botol air mineral, batu, dan petasan sehingga situasi semakin rusuh,” ujarnya.

Massa baru bubar setelah petugas menyemprotkan air dan melepaskan gas air mata. Atas kejadian itu, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap para pelaku, salah satunya Luthfi. [h&y]