BataraNews.com – Seorang pelapor yang mendatangi Polda untuk gugatan laporan mengenai vidio Sukmawati Soekarnoputri yaitu Ratih Puspa Nusanti memenuhi panggilan Polda Metro Jaya terkait laporannya soal kasus dugaan penistaan agama.

Sekretaris Jenderal Koordinator Bela Islam (Korabi) Novel Bamukmin, selaku pendamping hukum, menyebut Ratih baru sebatas dimintai data pribadi dan undangan klarifikasi atas laporannya. Pemeriksaan dilanjutkan lagi hari Kamis (28/11). Ratih diminta untuk melengkapi alat bukti.

Dia menjelaskan, Ratih baru sebatas melampirkan barang bukti berupa print out pemberitaan media massa. Pada pemeriksaan lanjutan nanti, Ratih akan menyerahkan video Sukmawati yang ucapannya diduga menista agama.

“Hari ini baru data pribadi saja, belum masuk ke materi pokok karena yang menjadi acuan itu alat bukti yang cukup,” kata Novel di Mapolda Metro Jaya, Senin (25/11).

“Waktu lapor ketika itu pelapor memang baru hanya dapat bukti dari kutipan print out dari beberapa media online, belum ada video dan YouTube ketika itu,” katanya lagi.

Sementara itu, Wakil Ketua Koralbi Azam Khan menambahkan, apa yang dilaporkan oleh Ratih indikasi hukumnya kuat. Sukmawati dinilai telah menistakan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 KUHP. Untuk itu, ia yakin Sukmawati bersalah.

“Indikasi hukumnya cukup kuat kalau penyidik serius, kalau polda serius, kalau Kapolri serius. Pasalnya bisa 156 bisa 156 a. Tapi mendekatinya ke 156a. Ancaman hukumannya 5 tahun itu pasti,” kata Azam.

Untuk diketahui, Dalam video yang beredar di Youtube, dalam sebuah forum, Sukmawati tampak bertanya kepada audiens soal Pancasila dan Alquran serta pertanyaan soal Soekarno dan Nabi Muhammad SAW.

Berikut pernyataan Sukmawati dalam video yang beredar di Youtube:

“Mana yang lebih bagus Pancasila sama Alquran? Gitu kan. Sekarang saya mau tanya ini semua, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia Muhammad, apa Insinyur Sukarno? Untuk kemerdekaan. Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau menjawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini. Terima kasih silahkan duduk,” ucap Sukmawati.

Laporan tersebut tertuang dalam nomor LP/7393/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum tanggal 15 November 2019. Adapun pasal yang disangkakan dengan Pasal 156A Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP.

Terkait itu, Sukmawati merespons soal ucapannya yang terlanjur heboh. Maksud tujuannya bertanya soal itu adalah hanya ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak. Dia menegaskan tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan terhadap Nabi.

Tujuannya bertanya soal itu, menurut Sukmawati, adalah ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak. [h&y]