BataraNews.com – Pembangunan hotel bintang empat di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat belakangan santer dipermasalahkan.

Rencana pembangunan hotel ditolak seniman serta budayawan yang tak ingin kawasan tersebut justru berubah karena direvitalisasi.

Menurut para seniman, pembangunan hotel bintang lima itu akan mengubah kawasan budaya itu menjadi komersial. “Pada lomba desain revitalisasi TIM yang dimenangkan Andra Matin dan masterplan revitalisasi TIM tidak ada pembangunan hotel,” kata Arie.

Sementara itu Direktur Utama Jakpro, Dwi Wahyu Darwoto, menjamin TIM akan menjadi tempat ikonik yang ‘instagramable’ setelah proses revitalisasi selesai. “Kalau ada yang bilang TIM akan hilang, itu kurang tepat. TIM akan jadi ikon, akan jadi (tempat) instagramable kedua setelah Velodrome,” kata Dwi, di kantornya di Thamrin City, Senin (25/11/2019).

Menurut Imam kebijakan Gubernur Anies Baswedan bertolak belakang dengan Gubernur Ali Sadikin. Ali Sadikin, kata dia, lebih pro seniman ketimbang Anies Baswedan.

Ia melihat kebijakan Anies nampaknya akan menempatkan seni hiburan menjadi prioritas dan seni kreatif menjadi pelengkap. Indikasi itu bisa dilihat dari kebijakan Anies menyerahkan mandat pengelolahan PKJ-TIM selama 30 tahun kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

“Tapi akan lebih baik pembangunan ini dibicarakan juga dengan para seniman,” ujarnya. “Selama ini kami merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses sosialisasi revitalisasi TIM.”

“Jakpro badan usaha milik daerah yang tak terkait sama sekali dengan kehidupan kreativitas seni,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan Gubernur Anies Baswedan menyerahkan TIM bukan kepada ahlinya justru menurunkan derajat kesenian di Jakarta. “Hanya keramaian semata dan jauh dari nilai nilai estetik yang menjadi marwah kesenian,” demikian tutup Imam. [h&y]