BataraNews.com- Mental korupsi sepertinya sudah mengakar dalam persoalan kenegaraan kita. Semua liding sektor yang dianggap mampu menguntungkan diri sendiri lngsung disikat sebagai objek pencari keuntungan. Celakanya, mental korupsi tersebut timbul dan juga tumbuh di Kementrian Risetdikti. Wajar jika publik kecewa melihat hal ini.

Data Tim Investigator KA menjelaskan, laporan realisasi anggaran (LRA) untuk periode 31 Desember 2016, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (Ditjen SDID), menganggarkan belanja barang sebesar Rp1.438.787.172.000, dan telah merealisasikan sebesar Rp1.091.292.151.866 atau sebesar 75,85%. Realisasi belanja barang tersebut di antaranya digunakan untuk belanja perjalanan dinas paket meeting luar kota sebesar Rp56.792.556.476.

Namun ternyata, realisasi belanja perjalanan dinas paket meeting luar kota diduga diselewengkan, karena belanja perjalanan dinas paket meeting luar kota pada Ditjen SDID telah direalisasikan berupa belanja makan minum pegawai sebesar Rp166,52 juta.

Diketahui, realisasi belanja dalam rangka konsumsi staf dan tamu selama tahun 2016 sebesar Rp166.520.000, yang dilengkapi dokumen pertanggungjawaban berupa kuitansi pembayaran dari kuasa pengguna anggaran (KPA) Ditjen SDID kepada penyedia, dibuat secara harian.

Hal yang kemudian menjadi janggal adalah, realisasi belanja makan minum khususnya untuk staf Ditjen SDID dianggap oleh publik hanya menjadi serangkaian akal-akalan oknum pejabat saja. Mengingat sudah ada uang makan yang dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah kehadiran masing-masing pegawai.

Atas akal-akalan yang dilakukan oleh oknum pejabat tersebut akhirnya negara harus menanggung kerugian yang disebabkan pemenuhan perut pejabat mencapai Rp166.520.000.

Jelas masyarakat menyayangkan kelakuan pejabat pemerintahan yang tidak mengerti bagaimana mengelola uang negara dengan semestinya ini.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA) nIw