Kimia Farma Melakukan Pemborosan Miliaran Rupiah terkait Distribusi Obat

Spread the love

BataraNews.com- National Distribution Center (NDC) melayani permintaan obat dari PT Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD). Setelah menerima Purchase Order (PO) dari KFTD, maka NDC akan memproses permintaan tersebut. Sebelum dilakukan pengiriman, petugas di area transito out akan memeriksa terhadap fisik barang antara lain kesesuaian item produk, kemasan, expired date produk, nomor batch dan alamat tujuan.

Apabila seluruh item sudah sesuai dengan PO maka barang tersebut dikirim ketujuan. Namun, terdapat pemborosan atas pembelian tambahan biaya pengepakan Rp1.094.615.500,00 dan penambahan alokasi waktu dan biaya untuk memenuhi PO dari KFTD.

Berdasarkan data yang dihimpun Tim Investigator KA, diketahui bahwa NDC melayani PO dari KFTD dalam unit satuan terkecil sediaan. Untuk memenuhi permintaan tersebut, NDC harus mengalokasikan sumber daya untuk menyiapkan permintaan diantaranya waktu dan biaya untuk pengepakan. Personil di NDC harus membongkar original box dari produsen dan menyiapkan kembali dalam packing baru sesuai dengan jumlah permintaan dalam PO. Akan tetapi, kondisi tersebut mengakibatkan waktu pelayanan menjadi tinggi. Selain hal tersebut NDC harus mengalokasikan biaya untuk membuat packing baru.

Berdasarkan data keuangan per 15 Oktober 2018 yang diperoleh dari sistem SAP diketahui bahwa biaya yang telah dikeluarkan oleh NDC untuk pengepakan sebesar Rp1.094.615.500,00 yang terdiri dari biaya pengepakan, pembelian box styrofoam dan peti kayu. Selain berdampak pada biaya dan waktu, pemenuhan permintaan dalam unit satuan terkecil berpotensi terjadinya barang hilang atau rusak pada sisa barang yang sudah dikeluarkan dari original box.

Mirisnya lagi, pengelolaan persediaan di KFTD Cabang dibantu oleh sistem SAP PT KF, seluruh transaksi keluar masuk persediaan barang tercatat dalam sistem tersebut. Analisis pemeriksaan atas pengelolaan persediaan di KFTD pada Cabang Bandung dan Cabang Denpasar berdasarkan data persediaan yang diambil dari SAP diketahui bahwa pencatatan dalam SAP berdasarkan batch, namun untuk penyimpanannya tidak dipisahkan per batch.

Mekanisme pengeluaran barang persediaan menggunakan kombinasi sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) tanpa mempertimbangkan batch, sehingga pada saat dilakukan evaluasi fisik ditemukan ketidak cocokan antara saldo per batch dalam SAP dan fisik persediaan yang ada.

Jelas sekali hal tersebut mengakibatkan potensi kerusakan barang persediaan yang sudah dikeluarkan dari original box dan pemborosan atas pembelian tambahan biaya pengepakan Rp1.094.615.500,00 serta penambahan alokasi waktu dan biaya untuk memenuhi PO dari KFTD.

Ketika redaksi BataraNews.com mencoba menguhubung pihak KF untuk meminta klarifikasi, disayangkan dari pihak mereka tidak ada yang bersedia. (Fahad Hasan&Tim Investigator KA)