BataraNews.com- Sepeda buatan dalam negeri, seperti merek Polygon dan Wimcycle, terancam terpental dari pasar sepeda dalam negeri. Kondisi itu terjadi apabila tidak ada kebijakan yang mendukung produk dalam negeri dalam gempuran produk China yang masuk ke dalam pasar dalam negeri.

Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono, mengatakan derasnya impor produk China tersebut tidak terlepas dari perjanjian ASEAN-China Free Trade (ACFTA).

“Memang Taiwan ada juga di sini, tapi porsinya tidak signifikan, 90% lebih [impor] berasal dari China. Kita terkena dampak oleh produk China disebabkan banyak hal, yang kami rasakan karena ACFTA, ini membuat kami terpukul,” kata Rudiyono seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (27/9).

Menurutnya, perjanjian kawasan perdagangan bebas ASEAN-China tersebut memang harus dijalankan. Cuma, dia berharap ada kebijakan agar pelaku usaha sepeda nasional tidak menjadi korban akibat impor tersebut.

“Sekarang industri bea masuk unit jadi dan komponen kan sama. Ini konyol, jadi kita tidak dapat insentif, untuk melakukan kegiatan nilai tambah. Hampir di atas 90% sumber unit lengkap atau bahan baku berasal dari China,” katanya.

Dalam kondisi tersebut, pedagang dinilai akan lebih banyak memilih barang impor tersebut daripada memanfaatkan industri dalam negeri.

“Kita kan sudah investasi besar, pedagang pasti daripada memikirkan industri, investasi besar, mending dagang, bea masuk sama,” jelasnya.

Ketika ditanya soal besaran bea masuk, dia mengatakan belum ideal.

“Bukan kecilnya, tetapi idealnya harga BM komponen lebih redah dari barang jadinya. Ini supaya bisa masuk ke pasar, kita membuat impor lebih menguntungkan. Minimal harusnya sama. Kita membuat dengan bahan baku dari luar, menjadi produk jadi, minimal sama supaya kompetitif,” tutupnya.

Sebab itu, tidak heran apabila beberapa saat lagi, sepeda yang kita miliki pun akan “made in China”.(Fahad Hasan&DBS)