Spread the love

Oleh: Ichsanuddin Noorsy

BataraNews.com-Suatu pagi di kompleks perumahan Kejaksaan Pondok Bambu, di rumah Baharuddin Lopa, kami minum kopi. Tidak ada makanan lain yang mahal dan istimewa. Obrolan tentang korupsi menjadi fokus bahasan. Saya menyampaikan pentingnya membuat peta kejahatan keuangan negara.

“Gagas bagus,” kata Jaksa Agung Baharuddin Lopa yang baru diangkat menggantikan Marzuki Darusman.

“Apa rujukan peta itu,” ujarnya tenang.

Saya menjawab, saya memiliki data kejahatan keuangan negara berdasarkan hasil pemeriksaan/audit internal yang tidak dan belum ditindak lanjuti.

Saat itu Kejaksaan Agung sibuk memriksa kasus BPUI (Sujiono Timan) dan kasus Bank Indover yang datanya dari saya.

“Baik, silakan saudara buat peta kejahatan keuangan itu berdasarkan data yang ada,” katanya tegas.

Kemudian, Baharuddin Lopa menegaskan, saudara harus ingat, peta kejahatan itu dan penindakan nanti tidak boleh didasarkan atas kebencian kepada seseorang atau pada satu kelompok.Saya menjawab, Ini semua hanya berdasarkan data yang saya punyai.

Peta kejahatan keuangan negara pun tergelar. Peta di atas kertas folio ganda dimasukkan ke saku baju safari biru gelap.Berdasarkan peta ini, Jaksa Agung menyampaikan ke publik bahwa Kejaksaan Agung sudah mempunyai peta kejahatan keuangan negara.

“Kejaksaan akan bertindak memberantas korupsi sesuai dengan data,” katanya di berbagai forum seminar, diskusi dan wawancara.

Dua pekan setelah itu, Baharuddin Lopa wafat karena kecelakaan.

***

Kalau sekarang banyak tokoh Islam muda menjadi TSK koruptur, penyebabnya karena sistem dan dirinya sendiri. Juga, disebabkan oleh sistem UUD 2002 menyiratkan sistim politik berbasis modal kapital dan korporasi.

Disebabkan dirinya sendiri, karena mnganggap harta mampu memberi makna kemuliaan dan kehormatan. Saat KPK menangkapi banyak koruptor dari kalangan Islam, itu karena KPK mau kerja mudah/ringan namun mberi bobot prestasi.(Fahad Hasan)