Spread the love

BataraNews.com-…

Opsi Baru Menyehatkan Muamalat

Manajemen Bank Muamalat akhirnya mengusulkan skema baru untuk menyelesaikan masalah permodalan perusahaan kepada pemerintah. Dua petinggi bank syariah tertua di Indonesia itu, Direktur Utama Achmad Kusna Permana dan Komisaris Utama Ilham Habibie, menemui Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman.

Luky mengkonfirmasi soal pertemuan yang berlangsung di kantornya, kompleks Kementerian Keuangan, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, tersebut. Tanpa memaparkan usul skema yang dimaksud, ia memastikan pemerintah sedang mempelajari konsep yang disodorkan manajemen Bank Muamalat.

“Kami masih mengkaji usul mereka,” ujarnya.

Dalam skema baru itu, menurut pejabat yang mengetahui pertemuan tersebut, muncul alternatif menggunakan surat berharga syariah negara atau sukuk Negara sebagai salah satu opsi sumber pembiayaan.

Pertimbangannya: biaya obligasi yang diterbitkan pemerintah akan jauh lebih murah. Usul baru itu muncul di tengah penolakan Otoritas Jasa Keuangan terhadap skema penyehatan yang diajukan manajemen Muamalat. Perusahaan menghadirkan Al Falah Investments Pte Limited sebagai calon investor yang akan mengakuisisi sekitar 50,3 persen dari seluruh saham yang diterbitkan Bank Muamalat.

Nilai pengambilalihan itu setara dengan Rp 2,2 triliun. Rencana itu sempat mengembuskan angin segar bagi perusahaan yang sedang megap-megap setelah menanggung pembiayaan seret dalam jumlah besar tersebut. Manajemen Muamalat sibuk mencari mitra untuk meningkatkan permodalan

beberapa tahun terakhir. Dari belasan calon investor yang berminat, hanya Al Falah yang paling maju, sampai melakukan uji tuntas. Yang lain langsung “balik kanan” begitu ditanyai keseriusannya.

Kesulitan yang dialami Muamalat terjadi sejak empat tahun lalu. Pada 2015, kredit macet kotor bank ini mencapai 7,11 persen dengan rasio kecukupan modal cuma 12 persen. Tiga tahun kemudian, kredit seret Muamalat mulai berkurang, tapi modal kerja tetap pas-pasan di angka 12,34 persen berdasarkan laporan tahunan 2018.

Tahun lalu, OJK menyebutkan, Muamalat memerlukan suntikan dana segar paling tidak Rp 4 triliun. Karena itu, Otoritas meminta para pemegang saham menyetor duit untuk memperkuat keuangan perusahaan.

Tapi pemegang saham Muamalat, seperti Islamic Development Bank (IDB), National Bank of Kuwait, dan SEDCO Group, tidak dapat melakukannya. Sebab, porsi saham mereka di Muamalat telah menyentuh batas maksimal. IDB bahkan telah memegang 32,7 persen saham Muamalat, melebihi batas kepemilikan mereka di perusahaan lain yang rata-rata 20 persen.

Tidak mengherankan bila Al Falah membawa angin segar. Perusahaan yang berbadan hukum di Singapura ini dimiliki dan didirikan Ilham Habibie dan CP5 Hold Co 2 Limited. Adapun CP5 adalah perusahaan investasi yang modalnya berasal dari dana kelolaan SSG Capital Management Limited. SSG merupakan perusahaan pengelola aset yang berpusat di Hong Kong, yang nilai kelolaannya lebih dari US$ 5 miliar.

Berdasarkan prospektus Bank Muamalat 17 April 2019, Al Falah sedang dalam proses perubahan komposisi pemegang saham. Nantinya Ilham Habibie mengendalikan sekitar 51 persen saham Al Falah, sementara CP5 memegang 49 persen. Al Falah disebut memiliki kapitalisasi keseluruhan US$ 121 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun.

Dalam rencana akuisisi, Al Falah akan mengambil 77,1 persen dari total saham baru yang dikeluarkan Bank Muamalat dalam penawaran umum terbatas melalui pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu. Caranya, membeli hak memesan efek lebih dulu dari pemegang saham yang ada sekarang atau berperan sebagai pembeli siaga dalam penawaran umum terbatas Bank Muamalat.

Al Falah memastikan perusahaan menggunakan dana internal untuk membiayai proses akuisisi tersebut. Perusahaan menjamin dananya tidak berasal dari pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apa pun dari bank atau pihak lain di Indonesia. Bila akuisisi rampung, Ilham Habibie dan SSG secara bersama akan mengendalikan Bank Muamalat.(Fahad Hasan&DBS)