Spread the love

Bagi Melchias Markus Mekeng, sosok sang ayah Joseph Blasius Bapa, adalah seorang mentor politik sekaligus guru yang bijak bagi dirinya.

BataraNews.com- Persinggungan Melky, panggilan akrab Melchias Markus Mekeng, dengan dunia politik terjadi secara tidak langsung sejak usianya masih anak-anak. Melky tergolong bocah yang paling rajin mengikuti rapat-rapat organisasi. Ia mengaku, sejak masih kecil, dirinya sering diajak oleh ayahnya mengikuti rapat-rapat organisasi sosial dan politik.

Ayah Melky adalah seorang aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di paruh akhir 1970-an. Sebelumnya, ayahnya adalah aktivis Partai Katolik, partai yang kemudian berfusi ke PDI pasca kebijakan penyederhaan partai oleh pemerintahan Presiden Soeharto.

“Waktu saya masih kecil, saya sering diajak ikut ke rapat-rapat. Pada saat ayahnya terlibat penanangan bencana, saya pun diajak terlibat,” kisah Melky.

Ia rupanya merekam berbagai kegiatan tersebut dengan baik.

Masuk Dunia Politik

Setiap kali berkisah mengenai masa-masa awal mulai aktif di partai, Melky suka tertawa geli mengingat kejadian lucu yang harus ia lalui. “Dulu, kalau menghadiri acara Golkar, saya suka duduk sendirian karena saya tak punya teman yang dari latar belakang organisasi,” kenang Melky. Ia mau mengatakan bahwa dirinya bukan aktivis mahasiswa, seperti HMI, PMKRI, atau GMNI.

Wajar saja jika Melky sempat merasa “sendirian” di masa-masa awal aktif di Golkar. Ia bukannya seperti rata-rata mantan aktivis mahasiswa yang terjun ke dunia politik, dan sudah memiliki akses politik melalui jaringan organisasi. Ia memang tidak pernah aktif di lingkungan organisasi kemahasiswaan di Indonesia karena harus melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah lulus SMA Regina Pacis Jakarta, Melky langsung melanjutkan kuliah di Filipina.

Melky mengambil jurusan ekonomi di Universitas De La Salle, Metro Manila, Filipina. Setelah menyabet gelar sarjana, ia kembali ke Indonesia. Kemudian, ia langsung terjun ke dunia kerja di bidang perbankan dan pasar modal. Pada awalnya Melky bekerja sebagi Foreign Exchange Trade di Bank Duta (1988) hingga akhirnya ia mendirikan perusahaan sekuritas sendiri PT Mesana Investama Utama dan PT EMCO. Selama itu pula Melky tak pernah bersinggungan dengan aktivitas kepartaian.

Tak punya banyak teman saat mulai aktif di Golkar, tak membuat Melky kuatir karena ia sangat yakin bahwa di Golkar, dirinya pasti akan berkembang. Modal keyakinannya adalah dirinya memiliki keahlian dan kompentensi, yang ia bawa jauh-jauh dari universitas De La Salle. Bekal itulah yang akan ia tunjukkan pada Golkar.

Perputaran waktu membawa Melky pada momentum politik yang tepat, yakni pada pemilu legislatif 2004. Ia dengan keyakinan penuh memutuskan maju berlaga sebagai calon legislator DPR RI dari dapil NTT I. Ia kemudian berkampanye ke daerah-daerah. Perjuangan dan keyakinan Melky itu akhirnya berbuah manis. Ia terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2004-2009. Sebelumnya tahun 1999, Melky menjadi anggota MPR RI Utusan Daerah.

Berbekal latar belakang pendidikan, pengusaan ilmu ekonomi makro dan mikro, serta pengalaman profesional Melky di dunia pasar modal dan perbankan, Partai Golkar akhirnya menempatkan Melky sebagai anggota Komisi XI DPR RI dengan ruang lingkup, yaitu bidang keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank.

Pemilu legislatif 2009 Melky terpilih kembali menjadi wakil rakyat di Senayan. Pemikiran dan kiprah Melky di Komisi XI, ternyata diam-diam diamati oleh pimpinan Partai Golkar. Baru setahun lebih berkiprah di komisi XI, Melky kemudian memperoleh kepercayaan yang lebih besar dari Partai Golkar. Ia ditunjuk sebagai Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.

Ia resmi dilantik sebagai ketua Banggar pada 19 Juli 2010. Tugas utama Banggar adalah membahas APBN bersama pemerintah. Melky memangku jabatan Ketua Banggar selama kurang lebih dua tahun. Tahun 2012, setelah merenung secara mendalam dan bimbingan rohani dengan seorang Uskup, Melky akhirnya mengundurkan diri sebagai Ketua Banggar.

Selama sebagai Ketua Banggar, Melky telah membuat sejumlah terobosan fundamental dalam konteks politik anggaran di DPR RI, antara lain mengenai Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPPID), cost recovery, dan penghapusan kartel aspal.

Di ranah internal keorganisasian Partai Golkar, Melky merintis karirnya dari tingkat basis organisasi, yakni sebagai anggota Golkar DPD II Jakarta Selatan. Hingga akhirnya dirinya dipercaya sebagai Pengurus Harian DPP Partai Golkar periode 2009-2015, yakni pada pos Wakil Bendahara Umum.

Politik bagi Melky adalah pengabdian bagi rakyat. Hal ini juga diwariskan oleh ayahandanya. Maka, suami Maria Laurentia Widyana ini menjalankan berbagai aktivitas politiknya dengan bekerja. “Saya ingin mengabdi untuk rakyat Indonesia, dan khususnya untuk masyarakat di Sikka dan NTT,” kata Melky. Mewarisi politik ayahnya yang santun dan berbakti untuk masyarakat. Melky pun telah berbuat banyak untuk masyarakat Indonesia, khususnya NTT.

Posisinya yang strategis, membidangi anggaran dan keuangan, setidaknya telah dirasakan masyarakat. Mulai dari pengadaan fasilitas dan sarana, serta infrastruktur, seperti jalan raya, air bersih, dan listrik untuk memajukan nadi perekonomian NTT.

Contoh konkret kerja keras Melky untuk masyarakat NTT, yaitu salah satunya di Pulau Adonara, tepatnya Adonara Tengah dan Barat. Masyarakat di kedua wilayah tersebut kini telah menikmati terang listrik yang selama bertahun-tahun hanya mengandalkan lampu pelita. Setidaknya, ada tiga hal besar yang sudah dan masih terus diperjuangkan Melky, yaitu akses jalan raya, air bersih, dan listrik.

Fokus perjuangannya untuk akses jalan raya adalah pembangunan jalan trans Flores. Ruas jalan raya yang membentang pada tujuh kabupaten dari ujung barat Flores hingga ujung timur Flores, yakni dari Manggarai Barat sampai Flores Timur ini menjadi salah satu prioritas Melky.

Dengan adanya jalan raya, demikian Melky, maka akan memudahkan akses transportasi, pendidikan, ekonomi, pariwisata, pertanian, bagi masyarakat kabupaten Flores dan masyarakat luar.

Biodata

Nama  : Melchias Markus Mekeng

Pendidikan:

  • S1 Jurusan Managemen Keuangan Universitas De La Salle, Filipina (1982-1987)
  • S2 Program Studi Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung (sedang studi)
  • Kursus Keuangan di Universitas Harvard, Amerika Serikat (2007)

 Organisasi:

  • Ketua Indonesia Money Broker Association (INAMBA)
  • Ketua DPD Partai GOLKAR Kabupaten Sikka (2006-2010)
  • Bendahara Umum DPP Ormas SOKSI (2010-sekarang)
  • Wakil Bendahara DPP Partai GOLKAR (2009-2015)

 Publikasi:

  • Buku “Pengabdian di Tengah Prahara Korupsi Pemikiran dan Kiprah Melchias Markus Mekeng” (disusun oleh Viktus Murin, LKAK, 2013)

Tulisan ini diambil secara utuh dari buku “Kiprah Tokoh Katolik Indonesia” yang ditulis Benny Sabdo. Redaksi mendapat persetujuan dari penulis untuk mengutip isibuku yang diterbitkan oleh Penerbit PT Kanisius ini. (Fahad Hasan&DBS)