Spread the love

BataraNews.com – Sepanjang triwulan pertama tahun 2019, PT Bukit Asam Tbk berhasil mencatatkan peningkatan kinerja operasionalnya. Pada triwulan pertama tahun ini, produksi batu bara Bukit Asam mencapai 5,70 juta ton atau meningkat 8% dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Sementara angkutan batu bara dengan menggunakan kereta api tercapai 5,84 juta ton pada periode Januari hingga Maret 2019. Peningkatan produksi dan angkutan batu bara ini mendorong peningkatan penjualan menjadi 6,65 juta ton.

Pencapaian tersebut membuat Bukit Asam meraih pendapatan usaha sebesar Rp 5,34 Triliun dengan rincian 46% dari pendapatan penjualan batu bara domestik, 50% dari pendapatan penjualan batu bara ekspor, dan 4% dari aktivitas lain seperti penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa. Sepanjang triwulan pertama ini, Bukit Asam telah mengekspor batu bara ke berbagai negara seperti India, Korea Selatan, Hongkong, Sri Lanka dan beberapa negara lain.

Pendapatan usaha Bukit Asam ini dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batu bara yang turun menjadi Rp 772.044/ton dari Rp 887.883/ton atau turun 13%. Turunnya harga jual rata-rata ini disebabkan oleh pelemahan harga batu bara Newcastle sebesar 7% maupun harga batu bara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index / ICI) GAR 5000 sebesar 24% dibandingkan harga rata-rata TW 1 2018, serta aturan pemerintah terkait harga jual DMO yang baru diimplementasikan pada 12 Maret 2019.

Dari hasil kinerja tersebut, pada Januari hingga Maret 2019, Bukit Asam mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,14 Triliun dengan EBITDA sebesar Rp 1,73 Triliun. Pencapaian kinerja operasional ini tak lepas dari strategi manajemen dalam optimalisasi peluang pasar ekspor ke beberapa negara di tengah pembatasan impor yang dilakukan oleh China selaku pangsa pasar ekspor terbesar. Tak hanya itu, Bukit Asam juga menerapkan strategi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market.

Sepanjang tahun 2019 ini, Bukit Asam telah menyiapkan sasaran yang perlu dicapai pada tahun ini, antara lain peningkatan target produksi, angkutan kereta api, dan penjualan. Bukit Asam menargetkan produksi batu bara pada tahun 2019 ini menjadi 27,26 juta ton atau naik 3% dari realisasi produksi tahun lalu sebesar 26,36 juta ton. Untuk angkutan batu bara dengan kereta api, Bukit Asam menargetkan angkutan batu bara sebesar 25,3 juta ton atau naik 12% dari realisasi angkutan tahun lalu. Sementara, untuk volume penjualan batu bara, Bukit Asam menargetkan sebesar 28,38 juta ton. Peningkatan target penjualan ini ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke premium market sebesar 3,8 juta ton.

Guna mencapai target angkutan batu bara dengan kereta api, Bukit Asam telah bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengembangkan proyek angkutan batu bara. Tak hanya itu, Bukit Asam juga telah merencanakan untuk segera menyelesaikan pengembangan proyek angkutan batu bara jalur kereta api Tanjung Enim – Kertapati dengan kapasitas 5 juta ton per tahun, beserta pengembangan fasilitas Dermaga Kertapati.

Bukit Asam juga telah menyiapkan sejumlah proyek pengembangan untuk keberlanjutan perusahaan. Dalam upayanya untuk meningkatkan nilai tambah batu bara, Bukit Asam telah menyiapkan proyek hilirisasi batu bara di Peranap, Riau dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Melalui proyek hiliriasi di Peranap, Bukit Asam menggandeng Pertamina selaku offtaker Dimethyl Ether (DME) dan Air Products selaku pemilik teknologi gasifikasi batu bara. Sementara untuk proyek hilirisasi di Tanjung Enim, Bukit Asam bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical untuk mengubah batu bara kalori rendah menjadi berbagai produk seperti Dimethyl Ether (DME), polypropylene, dan urea.

Selain hilirisasi, Bukit Asam juga dalam proses pembangunan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Muara Enim. PLTU Sumsel 8 ini merupakan Independent Power Producer (IPP) berkapasitas 2×620 MW. Pembangunan PLTU Sumsel 8 ini dibangun oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan konsorsium antara PT Bukit Asam Tbk dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Konstruksi PLTU ini telah dimulai sejak Juni 2018 yang diperkirakan memerlukan waktu selama 42 bulan untuk Unit I dan 45 bulan untuk Unit II. Commercial Operation Date (COD) ditargetkan pada tahun 2021 untuk Unit I dan tahun 2022 untuk Unit II dengan total kebutuhan batu bara sebesar 5,4 juta ton per tahun.

Tak hanya PLTU Sumsel 8, Bukit Asam juga melakukan sinergi BUMN Holding Pertambangan dengan PT Antam Tbk untuk bersama membangun PLTU Feni Halmahera Timur. Proyek pembangkit listrik Halmahera Timur ini memiliki kapasitas PLTU 3×60 MW dan PLTD 3×17 MW, yang saat ini sudah selesai dilakukan feasibility study. Selanjutnya akan dilakukan pembentukan JVC (Joint Venture Company PTBA-Antam) untuk segera membangun kombinasi PLTU-PLTD ini. Pembangkit listrik ini ditujukan untuk menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik feronikel milik PT ANTAM yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

Untuk menunjang angkutan batu bara dengan kereta api, Bukit Asam juga melakukan proyek pengembangan angkutan batu bara jalur kereta api dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Melalui proyek pengembangan ini, diharapkan jalur kereta api pengangkut batu bara ini dapat memiliki kapasitas 60 juta ton per tahun pada tahun 2023. Untuk menunjang proyek tersebut, terdapat dua jalur baru yang dikembangkan, yaitu Tanjung Enim – Arah Utara dan Tanjung Enim – Arah Selatan.

Tanjung Enim – Arah utara, nantinya akan memiliki kapasitas angkut menjadi 10 juta ton per tahun. Untuk Tanjung Enim-Arah Selatan terdapat dua jalur yaitu Tarahan-I dan Tarahan-II, di mana Tarahan-I memiliki pengembangan kapasitas jalur existing menjadi 25 juta ton/tahun pada tahun 2020, dan TarahanII memiliki kapasitas angkut 20 juta ton/tahun dan direncanakan akan beroperasi pada tahun 2023. [azk]