Spread the love

BataraNews.com- Piutang kepada BPJS Kesehatan timbul akibat transaksi penjualan baik secara langsung maupun tidak langsung. Transaksi penjualan kepada BPJS Kesehatan langsung yaitu transaksi dilakukan antara PT Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD) dan BPJS. Sedangkan transaksi penjualan tidak langsung yaitu transaksi penjualan dilakukan antara KFTD dengan Rumah Sakit maupun fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan maupun transaksi penjualan PT Kimia Farma Apotek (KFA) kepada pasien BPJS Kesehatan dan dengan rumah sakit maupun fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Baik KFTD maupun KFA merupakan anak perusahaan dari PT Kimia Farma. Piutang KFTD dan KFA per 30 Juni 2018 yaitu masing-masing sebesar Rp974.077.298.744,00 dan Rp513.865.981.512,00, di antaranya sebesar Rp308.905.826.789,00 dan sebesar Rp348.292.433.775,00 atau 31,71% dan 67,78% merupakan Piutang BPJS Kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Total Piutang BPJS Kesehatan sebesar Rp657.198.260.564,00 di antaranya sebesar Rp387.826.853.210,00 atau 59,01% berumur lebih dari 90 hari. Rincian atas piutang tersebut pada TabeI 3.34 dan 3.35.

Dari nilai yang ditagihkan langsung ke BPJS Kesehatan sebesar Rp152.078.001.625,00, status piutang tersebut sebesar Rp120.787.108.368,00 belum diverifikasi BPJS dengan rincian atas piutang tahun 2016, 2017, dan 2018 (s.d. 30 Juni) masing-masing sebesar Rp1.437.127.130,00, Rp24.817.972.668,00 dan Rp94.532.008.570,00. 

Pengendalian Piutang pada KFTD dengan melakukan locking piutang yang berumur lebih dari 45 hari tidak diberlakukan khusus untuk rumah sakit Pemerintah sesuai Surat Keputusan Direksi KFTD Nomor: 079/001DIRIIM- TMIUMUMl12/20 14 tentang Penetapan Perubahan Proses Bisnis PT Kimia Farma Trading & Distribution tanggal 31 Desember 2014.

Besarnya nilai Piutang BPJS tersebut memberatkan keuangan KFTD dan KFA, hal ini dapat dilihat dari laporan rugi laba dan cash flow perusahaan sebagai berikut:

  • KFTD dan KFA memiliki laba positif dengan Arus Kas dari Aktivitas Operasi Negatif

KFTD dan KFA mencatat Laba Sebelurn Pajak Penghasilan Tahun 2017 (Audited) yaitu masing-masing sebesar Rp37.210.811.695,00 dan Rp71.604.517.815,00. Sedangkan Arus kas bersih dari aktivitas operasi yaitu negatif masing-masing sebesar Rp19.076.075.614,00 dan Rp55.761.330.194,00 yang berarti perusahaan tidak dapat menutupi operasi semata-mata dari menjalankan bisnis. Arus kas Operasi negatif juga menandakan masalah penagihan yang tidak lancar.

  • Meningkatnya Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Karena arus kas dari aktivitas operasi maupun investasi negatif maka, perusahaan harus menghasilkan arus kas positif  dari aktivitas  pendanaan. Arus kas dari aktivitas pendanaan KFTD dan KFA tahun 2017 yaitu masing-masing sebesar Rp53.702.575.000,00 dan Rp163.950.799.982,00, arus kas tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 dengan nilai masing-masing sebesar Rp198.916.000,00 dan Rp83.015;845.116,00. Dalam mengatasi kesulitan cash flow, KFTD dan KF A melakukan peminjaman kepada PT KF dan bank.

Besarnya nilai utang bank KFTD dan KFA tahun 2017 masing-masing sebesar Rp75.000.000.000,00 dan Rp342.000.000.000,00, atas hutang bank tersebut KFTD maupun KFA tidak dapat memisahkan besarnya pinjaman tersebut yang dipergunakan untuk mengatasi kesulitan cash flow karena masalah lambatnya penagihan BPJS Kesehatan.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)