Spread the love

BataraNews.com- Bank Mualamat Indonesia Tbk (BMI) tengah mengalami kesulitan keuangan. Rencananya, mereka akan melakukan right issue. Dalam right issue hingga penjualan asset swap plan,terdapat tiga perusahaan yang akan membeli asset yang ada. Ketiga perusahaan tersebut adalah Dubai Group, yakni Dubai Trust, Dubai Investor  dan Dubai Corporation.

Arranger aksi ini adalah Djamal Attamimi. Djamal menjabat Managing Partners Lynx Asia Partners dan Komisaris PT Toba Bara Sejahtra Tbk. Perlu diketahui, sebelumnya OJK tidak merekomendasikan penjaualan asset swap yang akan dilakukan oleh BMI. Berdasarkan presentasi Attamimi ke pemegang saham Muamalat, ada tiga transaksi terkait asset swap.

Transaksi pertama, Muamalat menjual non performing asset (NPF) kepada Dubai Trust senilai Rp6 triliun.  Dari NPF itu, estimasi 30% dari nilai nomimal penjualan masih bisa tertagih. Transaksi kedua, Muamalat menerbitkan sukuk mudarabah senilai Rp1,6 triliun dengan kupon 8% dan tenor 20 tahun. Penerbitan sukuk meningkatkan capital adequacy ratio(CAR) Bank Muamalat. Dubai Investor akan menyerap sukuk ini sepenuhnya.

Transaksi ketiga, Muamalat wajib membeli Sukuk Trust Certificate yang diterbitkan Dubai Corporation sebesar Rp 8 triliun. Sukuk ini tidak memiliki peringkat dan memiliki kupon 0% bertenor 20 tahun. Aset dasar sukuk  obligasi Pemerintah Indonesia. Dana pembelian sukuk berasal dari penjualan NPF ke Dubai Trust senilai Rp 6 triliun, penerbitan sukuk mudarabah Dubai Investor Rp 1,6 triliun. Sisanya Rp 400 miliar dari kantong Muamalat.

Pembelian NPF Muamalat dikompensasikan lewat penerimaan dana Sukuk Trust Certificate senilai Rp 8 triliun tersebut. Artinya, setelah transaksi pertama dan kedua terjadi, semua dana dari Dubai Trust dan Dubai Investor masuk ke Dubai Group beserta tambahan uang kas Bank Muamalat Rp 400 miliar. Sebagai pertukarannya, Muamalat memegang Sukuk Trust Certificate selama 20 tahun.

Yang menarik, dari transaksi pertama, Dubai Trust bisa menerima tambahan Rp 1,8 triliun dari estimasi NPF yang bisa tertagih. Lalu di transaksi kedua, Muamalat harus membayar yield8% dari Rp 1,6 triliun atau sebesar Rp 128 miliar per tahun selama 20 tahun. Dokumen tersebut menyebut, estimasi laba Muamalat 2018 sebesar Rp 96 miliar. Artinya, Muamalat harus nombok. ( Sumber, KONTAN.).

Selain itu, tim investigator mendapat informasi valid bahwa BMI telah melakukan penjualan asset swap senilai Rp500 milliar, namun hal ini buru-buru dibantah oleh OJK.

 Tidak ada transaksi penjualan Asset Swap di BMI”, tegas  Anto Prabowo dalan surat elektronik.

Sayang hingga berita ini turun, Achmad Kusna Permana, Presiden Direktur Muamalat tidak bersedia menjawab pertanyaan, bahkan nomornya ia pun blok.  Selanjutnya, bagaimana Wapres Kiai Ma’ruf sampai bersuara! (Bersambung…).(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)