Spread the love

BataraNews.com- Perencanaan investasi Pabrik Garam Farmasi diawali dari kesepakatan bersama antara PT KF dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Untuk Pengembangan dan Rekayasa Produk Fannasi Nomor 241KB1BPPT-KIMIA FARMA/05/20131 4/KFIPRJN12013 tanggal 27 Mei 2013.

Pada tahun 2013 PT KF melakukan kontrak kerja sama dengan Pusat Pelayanan Teknologil BPPT Enjiniring Badan Pengkajian  dan Penerapan Teknologi (Pusyantek) untuk melaksanakan kegiatan Pembuatan Studi Kelayakan Pembangunan Unit Produksi Garam NaCl Derajat Fannasetis dan Garam Aneka Pangan Kapasitas 1.500 ton per tahun sesuai kontrak Nomor 36IPKS.BEIBPPTIXW2013 dan 251KF1PRJIXIV2013 tanggal 16 Desember 2013. Nilai kontrak kerja sama tersebut sebesar Rp282.240.000,00.

Pusat Pelayanan Teknologi BPPT Enjiniring Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (Pusyantek) adalah Badan Layanan Umum yang merupakan satu kesatuan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 170IKpIKNBPPTIIV/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dinyatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan kebijakan satu pintu, seluruh kegiatan di bidang pemasaran, manajemen Perjanjian Kerja Sarna riset dan litigasi, manajemen proyek, dan manajemen keuangan yang berkaitan dengan pelayanan teknologi yang selama ini dilaksanakan oleh masing-masing unit kerja di lingkungan BPPT dialihkan  ke BPPT Enjiniring.

BPPT adalah  pemilik  atau penemu  teknologi  produksi  yang mampu menghasilkan garam NaCl dengan   kualitas  kebutuhan   farmasi   sesuai dengan  standar  Farmakope   Indonesia   dan  gararn aneka  pangan  sesuai dengan  paten  yang diterbitkan  oleh Direktorat  Paten,  Direktorat Jenderal Hak Kekayaan  Intelektual  Kementerian Hukum dan HAM RI atas nama  BPPT dengan  Nomor ID  P0026107, berjudul Pemurnian Larutan Garam Natrium  KIorida  Krosok  Menjadi Garam Natrium Klorida Farmasi tanggal 7 Juli 2010.

Salah satu latar belakang pembuatan studi kelayakan tersebut adalah belum dimanfaatkannya hasil penelitian atau paten dari BPPT sehingga PT KF yang  bergerak dalam bidang farmasi  ingin memanfaatkan teknologi tersebut, mengingat  kebutuhan  garam  farmasi dalam  negeri belum dapat  dipenuhi  oleh  industri farmasi dalam negeri dan kebutuhan  tersebut selama ini dipenuhi dengan  impor.

Berdasarkan  Laporan  Akhir Studi Kelayakan  Pembangunan  Unit Produksi  Garam NaCI Derajat Farmasetis  dan Garam  Aneka Pangan Kapasitas  1.500 ton per tahun  yang  disahkan  pada bulan Maret  2014 diketahui   bahwa  pembuatan   studi  kelayakan  disimulasikan   menjadi dua  tujuan output yaitu 1.500 ton per tahun dan 2.000 ton per tahun. Bersambung…(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)