Spread the love

BataraNews.com- Belakangan ada kabar burung mengatakan. Pekerjaan Site Investigation Add On Combine Cycle pada PT PLN pada tahun 2017, diduga menyimpang dari pedoman yang ada. Maka dilakukan pengecekan pada dokumen yang dimiliki Tim Investigator KA.

Ternyata, diketahui hanya ada pekerjaan Site Investigation Add On Combine Cycle di tiga lokasi Sumatera Bagian Selatan. Yang pada pelaksanaannya belum sepenuhnya dilakukan sesuai dengan pedoman pengadaan barang dan jasa.

Bahkan yang mengejutkan, terdapat personel ganda dalam pekerjaan tersebut. Yang diduga mengakibatkan ketidakhematan sebesar Rp230.650.000.

Sebelumnya, PT PLN beritikad baik ingin memenuhi kebutuhan listrik untuk beban di Sumatera Bagian Selatan. PT PLN (Persero) merencanakan membangun Add on Combined Cycle PLTG di tiga lokasi. Di antaranya Payo Selincah, Talang Duku, dan Borang.

Pekerjaan Menyimpang

Guna mempersiapkan pembangunan pembangkit, dilakukan Site Investigation di tiga lokasi tersebut. Tujuannya adalah untuk memperkuat kajian di dalam pembuatan Feasibility Study (FS). Penyelidikan lapangan (Site Investigation) pun dilakukan. Untuk memperoleh data-data primer mengenai kondisi aktual lahan yang akan dipergunakan untuk pembangunan pembangkit.

Pengadaan jasa konsultan site investigation menggunakan metode Penunjukan Langsung. Yaitu kepada konsultan yang sudah terbiasa melaksanakan site investigation. Dan, terdaftar dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) tahun 2016 di PT PLN E.

Lalu, PT PLN (Persero) melalui PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan mengadakan perjanjian dengan PT PLN E. di antaranya tentang Pekerjaan FS Pengadaan Add On Combine Cycle PLTG Payo Selincah, PLTG Borang dan PLTG Talang Duku. Diketahui, nilai pekerjaan yang disepakati adalah sebesar Rp6.000.592.840.

Namun sayang, pada proses pengerjaannya diduga banyak menyimpang. Seperti, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). Diketahui tidak memberikan informasi komposisi jumlah dan spesifikasi personel yang memadai dalam penyususnan HPE (Harga Perkiraan Enjinir). Wajar saja jika di akhir ditemukan personel ganda dan mendapatkan upah dua kali lipat.

Temuan penyimpangan lainnya adalah atas item pekerjaan yang tidak terdapat di dalam HPE. Namun, disajikan dalam HPS (Harga Prakiraan Sendiri). Bahkan parahnya, terkait pelaksanaan Site Investigation Add On Combined Cycle di tiga lokasi (Payo Selincah, Talang Duku, dan Borang) ini. Dikabarkan terindikasi dilakukan melalui pemecahan kontrak.

Pertanyaannya, kenapa pada pekerjaannya malah terdapat personel ganda? Sehingga publik mencurigai, bahwa dalam pekerjaan ini ada dugaan penyimpangan. Karena akibat dari masalah tersebut, diketahui terdapat pemborosan anggaran sebesar Rp230.650.000.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)