Ada Apa dengan Rp99,6 M?

Spread the love

BataraNews.com- Kaset baru, judul baru, sampul baru, rupanya tak dapat menutupi adanya lagu lama, dalam hal ini perjalanan bernegara di tanah air ini. Salah satu contoh adalah perjalanan dinas. Sesuai audit BPK tahun 2015, ada potensi kerugian negara sebesar Rp99.643.354.551 dengan penjelasan modus-modus sebagai berikut:

  • Belum ada bukti pertanggungjawaban atas potensi kerugian negara sebesar Rp80.434.106.748
  • Nama dan nomor tiket tidak sesuai dengan manifest atau tiket palsu, dengan kerugian negara sebesar Rp2.661.138.670
  • Harga tiket tidak sesuai dengan yang sebenarnya atau mark-up, dengan potensi kerugian negara sebesar Rp2.905.248.735
  • Adanya perjalanan dinas rangkap, dengan potensi kerugian negara sebesar Rp202.734.400
  • Belanja perjalanan dinas fiktif, dengan potensi kerugian negara sebesar Rp3.762.476.014
  • Belanja perjalanan dinas belum sesuai kententuan atau kelebihan pembayaran dengan potensi kerugian negara sebesar Rp9.677.649.944

Sedangkan rangking kementerian yang melakukan perjalanan dinas, tapi berpotensi merugikan negara seperti:

1) Kementerian Komunikasi dan Informatika sebesar Rp86.519.224.550

2) Kementerian Dalam Negeri sebesar Rp4.200.692.836

3) Kementerian Pemuda dan Olahraga sebesar Rp1.488.375.773

4) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebesar   Rp1.304.751.688

5) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebesar Rp1.015.513.484

6) Ombudman Republik Indonesia sebesar Rp997.907.692

7) Dewan Perwakilan Rakyat sebesar Rp945.493.484

8) Kementerian Perindustrian sebesar Rp749.701.790

9) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat sebesar Rp379.827.540

10) Kementerian Perdagangan sebesar Rp330.143.852.

Penyimpangan dalam urusan perjalanan dinas ternyata masih dan selalu terjadi setiap tahun, dan ini baru di tahun 2015. Pertanyaan yang berputar di ruang hampa adalah, sudahkah ini terselesaikan?. (Fahad Hasan&Tim Investigator KA)