BataraNews.com-Selama ini, tepatnya pada tahun 2014 sampai dengan 2016, PT INKA atau PT Industri Kereta Api telah melakukan produksi kereta api dan alat transportasi lainnya sebanyak 66 proyek senilai Rp 3,9 triliun. Perusahaan INKA mendapat 66 proyek ini, sebetulnya masih sedikit sekali. Kalau dirata-rata, berarti per tahun hanya mendapat sebanyak 22 proyek dengan senilai Rp 1,3 triliun.

Selanjutnya, sudah PT INKA per tahun hanya mendapat sedikit proyek pekerjaan, kata publik juga selalu merugi. Lantaran selalu kena denda dari proyek yang diberikan pemberi kerja (owner). Hal ini disebabkan perusahaan tidak memiliki aturan baku terkait penyusunan perikatan/kontrak khusus untuk penjualan produk dan jasa. Akibatnya, dalam penyusunan kontrak, PT INKA selalu menerima keseluruhan klausul yang tertuang dalam kontrak yang dibuat oleh pemberi kerja (owner).

Dengan hanya mengikuti owner dalam pembuatan klausul kontrak, PT INKA benar-benar dianggap publik stupid, karena telah merugikan perusahaan sendiri. Mungkin karena hal ini terbukti, ada 21 kontrak pengadaan pekerjaan dari tahun 2014 sampai tahun 2016 diketahui nilai pengenaan denda keterlambatan oleh pemberi denda. Antara lain oleh PT KAI cukup signifikan, yaitu senilai Rp 20,4 miliar atau 47 persen dari total laba bersih yang diperoleh PT INKA sebesar Rp 43.3 miliar. (Fahad Hasan&Tim Investigator KA)