Upaya Menyelamatkan Traveloka dan Tokopedia: Siapa Korbannya?

Spread the love

BataraNews.com – Kehawatiran Chairul Tanjung saat ini mulai menjadi kenyataan. Beberapa hari yang lalu, lewat berita detik tanggal 05 Juli 2019, saya membaca Menkominfo, Rudiantara menandatangani MoU Digital Collaboration Indonesia-Arab Saudi di Riyadh, Arab saudi termasuk Digitalisasi Umroh.

Umroh Digital Enterprise ini digarap melibatkan dua perusahaan yaitu Traveloka dan Tokopedia. timbul pertanyaan yang menggelitik dibenak saya, kenapa Menkominfo melibatkan kedua perusahaan Traveloka dan Tokopedia tersebut?.

Disisi lain banyak perusahaan yang sudah eksis dibidang Umroh seperti (Al Amin, Patuna, Maktour, Kanomas, Alisan, NRA, KAHA , dan lain-lain). Bahkan jika berbicara secara tehnology serta model bisnis semua perusahaan tersebut siap dan mampu untuk membiayainya.

Selain dari hal tersebut kenapa Menkominfo tidak melibatkan asosiasi perusahaan Umroh dan Haji yang ada seperti Himpuh, Patuhi, Amphuri dan lain-lain yang kita tau Asosiasi tersebut menaungi ratusan bahkan ribuan perusahaan Umroh dan Haji di Indonesia?.

Apakah Perusahaan Travel Umroh dan Hajji ini akan dibumi hanguskan seperti perusahaan travel tiketing?. Apakah ratusan ribu bahkan jutaan tenaga kerja yang ada di travel-Travel Umroh dan Hajji akan dibuat menganggur seperti ribuan Travel tiketing yang sudah tutup akibat aksi bakar uang Traveloka, Tokopedia?

Arus tehnology tidak bisa dihindari tapi dengan Menkominfo Tidak Melibatkan asosiasi dan tidak melibatkan travel-travel yang sudah eksis dan sudah berdarah-darah dalam bisnis ini. Maka terkesan bahwa Menkominfo ingin menyelamatkan Traveloka dan Tokopedia agar mendapatkan kontrak baru yang bisa dijual ke investor oleh kedua perusahaan tersebut.

Sehingga mendapatkan suntikan dana baru. Upaya oenyelamatan kedua perusahaan tersebut terkesan dipaksakan dan mengabaikan etika-etika dalam berbisnis. Sekadar pengetahuan untuk Menkominfo, Rudiantara, kami untuk mendapatkan Izin dari Departemen Agama agar dapat menjalankan bisnis umroh ini tidak Mudah. Bayak proses yang harus kami dilewati. Bahkan dari Departemen Agama saja perlu meninjau kantor kami dan kami harus melalui proses pembelajaran dan bimbingan memberangkat dahulu lewat travel-travel yang sudah eksis dibidang tersebut.

Bisnis Umroh dan Hajji adalah bisnis kepercayaan, ketika pemerintah lewat Menkominfo hanya melibatkan dua perusahaan maka secara tidak langsung pemerintah mengatakan kepada calon konsumen bahwa hanya dua perusahaan ini yang bisa dipercaya, lalu dimanakah letak keadilan dan etika bisnis Bapak?.

Tugas pemerintah adalah justru seharusnya mendidik dan membimbing kami bukan mengabaikannya. Pelajaran berharga sudah pemerintah dapatkan dari bangkrutnya ribuan travel tiketing. Akibatnya, membuat banyaknya pengangguran tidak kentara di Indonesia. (HAD-1030)