Spread the love

BataraNews.com-Utang PT Kimia Farma diketahui naik dari tahun 2016 ke tahun 2017. Dari laporan yang diperoleh Tim Investigator KA, utang PT Kimia Farma telah mencapai sebesar Rp 397 miliar. Sedangkan pada tahun 2016 hanya sebesar Rp 443,2 miliar. Ironisnya, pada tahun 2018 melambung tinggi, tinggi sekali menjadi sebesar Rp 830.5 miliar. Sebagai perusahaan penjual obat, diketahui bahwa utang perusahaan tersebut berasal dari empat perbankan, yaitu :

  • Bank Mandiri memberikan kredit atau utang kepada Kimia Farma sebesar Rp 240,2 miliar.
  • Bank May Bank Indonesia sebesar Rp 490 miliar.
  • Bank of Tokyo Mitsubishi sebesar Rp 100 miliar.
  • Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 276.7 juta.

Kredit yang diberikan empat perbankan kepada Kimia Farma ini dengan tingkat bunga per tahun antara tujuh persen sampai sembilan persen. Dan, digunakan oleh Kimia Farma untuk membiayai modal kerja revolving. Ada juga fasilitas kredit digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas produksi Kimia Farma.

Hal yang mengherankan bagi publik adalah, hanya untuk modal kerja, Kimia Farma harus berutang ke berbagai bank. Sepertinya, ini hanya memberatkan keuangan perusahaan “penjual obat” tersebut. Karena setiap tahun harus membayar bunga dan pokok utang.

Akibatnya, Kimia Farma bukannya turun utang banknya, malah makin tinggi. Misal utang tahun 2017, bila dibandingkan dengan tahun 2016, terus bertambah tinggi. Tinggi sekali seperti tidak terkendali.

“Bisa-bisa nyungsep alias bangkrut tuh perusahaan,” kata publik.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA) “�