BataraNews.com-Direktorat Bina Lemlat Kementerian Ketenagakerjaan pada Tahun Anggaran 2016 menjalankan proyek pengadaan barang berupa peralatan pelatihan institusional kejuruan las. Proyek ini sebenarnya terdiri dari 14 paket pekerjaan, namun oleh pihak Kemnaker dijadikan satu proyek. Berdasarkan dokumen yang diterima Tim Investigator KA, dalam proyek ini terungkap bagaimana trik Kemnaker memainkan proyek bernilai puluhan miliar itu.

Sebagaimana tertuang dalam surat perjanjian kontrak SP.32/KP/PPK.I/VII/20I6, 14 paket pekerjaan ini dimenangkan oleh PT BUJ dengan besaran nilai kontrak Rp 20,5 miliar. Untuk proyek ini, PT BUJ diberikan tenggang waktu guna merampungkan pekerjaannya selama 120 hari mulai dari 29 juli 2016 sampai 26 November 2016.

Masih berdasarkan dokumen yang diterima Tim Investigator KA, diduga ada pihak Kemnaker, dengan pemenang proyek (PT BUJ), telah bermain mata sejak proses lelang. Di mana proses lelang yang diikuti oleh 32 perusahaan ini, diduga hanyalah formalitas, karena terindikasi pemenangnya sudah dikantongi oknum Kemnaker.

Dalam proses lelang, dari 32 perusahaan diketahui perusuahaan yang lolos dari tahap evaluasi admimistrasi, teknis, evaluasi biaya, evaluasi kualifikasi, sampai evaluasi akhir, adalah PT PVI dan PT BUJ. Kedua perusahaan ini dinilai pihak panitia lelang Kemnaker memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, dan akhirnya PT BUJ yang dimenangkan.

Membongkar Trik Bermain dalam Proses Lelang!

Masih berdasarkan dokumen yang diterima Tim Investigator KA, terdapat beberapa kejanggalan dalam proses lelang. Mulai dari kesamaan waktu saat mendaftar lelang, bahkan sampai IP address PT PVI dan PT BUJ saat mendaftar paket pekerjaan sama persis. Artinya, satu IP address diduga digunakan untuk beberapa perusahaan. Kesamaan IP Address juga tidak hanya terjadi saat proses pendaftaran, namun berlanjut selama proses lelang dilakukan.

Selain kesamaan IP address, ditemukan juga kesamaan nomor surat penawaran yang diunggah PT BUJ dan PT PVI. Ajaibnya, bukan hanya nomor surat yang sama, susunan format surat dan penulisan sampai kesalahan pengetikan juga sama persis, ibarat bayi kembar identik.

Selain itu, kedua perusahaan yang diloloskan Kemnaker ini dalam pengajuan nilai penawaran kontrak sama-sama mendekati Harga Perkiraan Sendiri yang dibuat Kemnaker. PT BUJ mengajukan Rp20.500 095.924 dan PT PVI mengajukan Rp20.555.954.496.

Adanya kesamaan-kesamaan di atas, sulit dibayangkan, merupakan sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan? Sangat mengkhawatirkan, jika dugaan adanya trik kotor yang dijalankan oleh Kemnaker ini benar adanya. Tentunya, penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak boleh tinggal diam.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)