Spread the love

BataraNews.com-Pada tahun anggaran 2017 PT Bank Mandiri Indonesia harus menelan kekecewaannya. Lantaran salah memberikan fasilitas kredit kepada PT PAP. emberian fasilitas kredit kepada PT PAP ini diketahui dengan baki debit per 30 Juni 2017. Nilainya sebesar Rp167.998.724.204. Namun, siapa sangka kalau pemberian fasilitas kredit tersebut menjadi macet dan malah berpotensi merugikan Bank Mandiri?

PT PAP sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan spareparts mobil. Perusahaan ini beralamat di Kawasan Industri 1 dan 2 Kompleks Pergudangan Elang Laut, Blok J 2 Nomor 01 Pantai Indah Kapuk, Jakarta. T PAP didirikan berdasarkan Akta Notaris Nomor 02 tanggal 01 Desember 2008 di hadapan Notaris Esther Setiawati Santoso, S.H. Sebelumnya, PT PAP menjadi debitur Bank Mandiri sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 30 Juni 2017.

Bank Mandiri Lalai?
Sebelumnya juga, untuk pertama kalinya fasilitas kredit yang diajukan PT PAP adalah fasilitas kredit berupa modal kerja atau KMK Tranksaksional. Adapun limit yang diajukan adalah sebesar Rp125.000.000.000.
Fasilitas kredit tersebut diketahui bentuknya revolving, dengan tujuan tambahan modal kerja perdagangan spare parts kendaraan bermotor. Lalu, PT PAP diberikan jangka waktu hingga tanggal 22 Juni 2015 sampai dengan 12 Juli 2016.

Kemudian kedua kalinya PT PAP mendapat fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK). Diketahui, yang kedua kalinya ini dengan limit sebesar Rp100.000.000.000. Namun faktanya, pemberian fasilitas KMK kepada PT PAP tidak didukung dengan analisa yang memadai. Di mana pihak bank seperti terlalu optimis dalam pemberian limit fasilitas KMK yang didasari atas proyeksi penjualan.

Selain itu, ada kabar bahwa analisa kebutuhan modal kerja PT PAP dengan penghitungan trade cycle tidak mencerminkan kondisi PT PAP sebenarnya. Padahal biasanya, dalam menentukan kebutuhan limit KMK, bank memperhitungkan proses trade cycle dari calon debitur.

Trade Cycle adalah lama perputaran uang perusahaan dihitung dari kas menjadi bahan baku, sampai dengan kembali menjadi kas, yang berasal dari penjualan dan pembayaran piutang. Namun, penetapan perhitungan trade cycle selama 270 hari oleh lembaga audit negara dinilai terlalu lama.

Hal ini sebagian kecil dari awal mulanya pemberian fasilitas kredit tersebut menjadi macet, dan malah berpotensi merugikan Bank Mandiri. Banyak hal dan faktor lain yang terjadi atas pemberian fasilitas ini menjadi bermasalah. Hal ini disampaikan, agar publik mengetahui, bahwa PT Bank Mandiri pun pernah lalai.(Fahad Hasan&Tim Investigtor KA)