Spread the love

BataraNews.com-Kegiatan pengelolaan kredit Bank Mandiri tahun buku 2016 dan 2017 (semester I) diduga carut marut. Mulai dari lemahnya penerapan prinsip kehati-hatian hingga pemberian kredit modal kerja yang berindikasi macet. Hal ini tentu berpotensi pada kerugian yang harus ditanggung oleh Bank Mandiri.

Ada berbagai macam pemberian fasilitas kredit yang diberikan oleh Bank Mandiri kepada perusahaan tertentu. Fasilitas kredit tersebut, baru semester I saja sudah terdapat 18 temuan yang bermasalah. Salah satunya adalah pembiayaan fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) kepada PT GTS, dengan baki debit per 30 Juni 2017 sebesar Rp494.957.211.452.

Menurut dokumen yang dimiliki Tim Investigator KA, kabarnya pembiayaan tersebut beresiko tinggi dan berpotensi menjadi kredit masalah. Sebab pada saat pengelolaan kredit, Bank Mandiri belum melakukan monitoring secara memadai. Khususnya atas jaminan fasilitas Kredit Modal Kerja PT GTS. Padahal fasilitas KMK yang diberikan oleh Bank Mandiri sangat besar. Namun, Bank Mandiri tidak mengelolanya dengan serius.

Kredit Modal Kerja

Bahkan, kalau ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata si debitur tidak memenuhi kecukupan agunan. Termasuk kebijakan pelepasan agunan PT GTS, meningkatkan resiko penurunan security coverage PT GTS di Bank Mandiri.

Hal ini yang mengakibatkan pemberian fasilitas kredit kepada PT GTS dengan baki debit sebesar Rp494.957.211.452, berpotensi bermasalah. Selain itu, kepentingan second way out Bank Mandiri menjadi tidak terjamin dan tidak terlindungi. Khususnya atas penyelesaian kredit debitur dari agunan yang terdiri atas persediaan dan piutang, dalam hal ini berpotensi gagal bayar.

PT GTS sendiri, dahulu bernama PT PPE. Awalnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa perbaikan/servis produk telekomunikasi dan aksesoris. Perusahaan ini telah berkembang menjadi perusahaan distribusi dan retail produk, jasa telekomunikasi, aksesoris, serta jasa perbaikan.

Untuk diketahui, PT GTS beralamat di Gedung TRIO, Jalan Kebon Sirih Raya Kavling 63, Jakarta Pusat. Dan, didirikan berdasarkan Akta Notaris Haji Yunardi S.H Nomor 1 tangga 1 Maret 2007. Selain itu, PT TRIO sebagai ultimate shareholder dan induk perusahaan PT GTS, juga merupakan debitur di Bank Mandiri.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)