Spread the love

Direktur Utama DAB, Hermasjah Haryono 

BataraNews.com-Perusahan fintech sanga menjamur di negeri ini ototitas jasa Keuangan (OJK) baru-bari ini menutup ribuan perusahaan yang illegal atau tanpa lisensi. Namun, ada sebuah perusahaan yang memberanikan untuk berkiprah di bisnis fintech bahkan hingga kepedesaan. Mereka itu adalah DigiAsia Bios (DAB). Pekan lalu, BarataNews.com berkesempatan mewawancarai Direktur Utama DAB, Hermasjah Haryono di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan:

Dapat Dijelaskan seputar apa yang akan dilakukan DAB di tahun2018 lalu, serta kinerja maupun produk yang ditawarkan. Lalu apa rencana maupun strategi yang akan Bapak lakukan, baik jangka pendek, menengah maupun panjang dalam mendorong dan meningkatkan performance DAB.

DAB adalah fintech yang onestop solution. Jadi dapat dikatakan DAB dengan aliansinya sudah memiliki semua itu. Dan salah satunya adalah KasPro. KasPro adalah sebuah aplikasi di mana pengguna dapat bertransaksi menggunakan uang elektronik atau e-money. Semua akses finansial ini, dapat kita lakukan secara mudah dan cepar melalui tekhnologi. Selama 2018, kami terus melakukan sosialisasi ke masyarakat mengenai fintech. Namun melihat perkembangan yang ada, kami menganggap upaya ini kurang efiesien. Sehingga, kami berpikir untuk merubah model sejak akhir 2018 dengan strategi Business to Business atau B to B, dimana kami menghampiri para player untuk memberikan solusi bisnis ke dalam ekosistem mereka dengan layanan fintech. Selain KasPro, kami beraliansi dengan KreditPro dan RemitPro dimana KreditPro merupakan perusahaan peer to peer lending dan RemitPo fokus diremitansi.

Perlu diketahui, KasPro dan RemitPro telah memiliki izin yangm dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan KreditPro saat ini telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Sebenarnya, untuk menjalankan bisnis ini, tambang emas berada di pedesaan. Karena masyarakat pedesaan membutuhkan akses kredit cepat, mudah dan simple yang hingga kini belum tersedia. Melalui kerjasama keke dalam ekosistem B2B tadi kami dapat mengakses warung-warung hingga dapat menjangkau masyarakat pedesaan yang lebih membutuhkan solusi fintech. Sehingga kami dapat menargetkan pelanggan yang tepat secara efisien dan lebih loyal.

Menurut Anda, apalah program ini cocok?

Cocok sekali! Jadi di pedesaan itu hanya permasalah smartphone aja. Sekarang hanya dengan Rp 800 ribu dapat memiliki smartphone dengan kapasitas besar. Informasi sekarang sudah termasuk kebutuhan primer selain sandang, pangan, dan papan. Kita memasuki desa sekaligus membantu industri perbankan untuk akses finansial kepada masyarakat pedesaan.

Selama ini terdapat kesalah pahaman antara perbankan danfintech?

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa perbankan bersaing dengan fintech itu salah besar. Kami tidak menganggap fintech bersaing dengan bank tetapi kami malah mendukung kinerja mereka dan secara bersama-sama kita dapat meningkatkan visi meningkatkan inklusi keuangan Indonesia. Apabila seluruh uang kas di area pedesaan dapat masuk ke dalam system fintech maka sumber dana kas tersebut wajib disetorkan ke bank sebagai pemegang kustodian fintech. Disinilah letak peran fintech yang sesungguhnya. Tidak mudah namun realistis dan achievable.

Dapatkah Bapak memberi gambaran tantangan yang masih akandihadapi dalam mendorong perkembangan bisnis digital finance diIndonesia, baik dari sisi regulasi, bahan baku maupun teknisoperasional lainnya. Lalu apa yang akan dikerjakan di tahun ini?

Terdapat dua tantangan terbesar di industry fintech yaitu perlunya komunikasi yang lebih terbuka dan santai antara regulator dengan pelaku fintech serta bagaimana cara mengedukasi masyarakat sehingga dapat terbiasa dengan fintech dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal pertama diperlukan karena semua pelaku sedang bersama-sama mencari bentuk sehingga dengan komunikasi yang lebih terbuka dapat menciptakan koridor yang tepat dan cepat beradaptasi dalam situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity)

Lalu apa kiat dan strategi yang Bapak  lakukan dalammempersiapkan performance DigiAsia dalam turut andil berkiprah  dalam pembangunan bangsa.

Membangun human resource dan transfer pengetahuan serta membuka kesempatan untuk mencoba kepada seluruh karyawan adalah kuncinya. DNA untuk berpartner dengan pihak ketiga serta konsisten dengan pengaturan spending yang efektif adalah strategi kami.

Selain KasPro, KreditPro dan RemitPro apakah DAB mempunyaiaplikasi lain yang dapat memajukan industry digital di Indonesia?

Kami juga melakukan investasi ke beberapa ekosistem seoerti milsanya tron (transportasi online) yang berfungsi untuk memanggil angkot dengan aplikasi saat ini sudah beroperasi di Bekasi. Jadi kita mempercanggih existing operation agar lebih efisien dan punya nilai tambah, bagaimana masyarakat luas untuk mendapatkan kendaraan umum. Dan kami juga bekerjasama dengan pihak terkait seperti memberikan laporan secara rutin. Selain itu, kita ingin mengedukasi para konsumen tentang solusi digital

Dalam Era Globalisasi, bagaimana bisnis keuangan dan fintechmenurut bapak dapat dimanfaatkan, dapat dijelaskan?

Saya punya harapan positif. Indonesia punya bahan baku untuk sukses di era globalisasi. Populasi yang besar, 265juta, relative usia muda yang tinggi, penetrasi social media yang besar, dan keterbukaan terhadap kemajuan teknologi membuat mereka mau dan mudah mencoba teknologi. Hal ini adalah syarat penting agar inovasi dapat berjalan secara masal. Sehingga yang diperlukan bagi pelaku bisnis adalah untuk bekerja keras mencari problem-problem yang ada saat ini. Problem yang sesungguhnya, inilah tantangan. Saat kita menemukannya otomatis kita temukan solusinya. Teknologi mempermudah proses pembentukan solusi ini.(Fahad Hasan)