Kajian Khalid Basalamah Membuat Pemuda takut akan Dosa

Spread the love

BataraNews.com-Masjid Nurul Iman yang berada di kompleks Mal Blok M Square, Jakarta Selatan penuh sesak dijejali muda-mudi. Rabu malam akhir Januari itu, ustaz salafi yang dakwahnya sedang digandrungi anak-anak muda untuk berhijrah, Khalid Basalamah, mengisi kajian.

“Alhamdulillah penuh, banyak yang mau tobat nih,” canda Khalid sesaat sebelum memberikan kajian yang disambut gelak tawa.

Khalid lantas berceramah dengan tema “Dosa-dosa Besar ke-117”. Isi ceramah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan tersebut tidaklah semenakutkan seperti tema yang ditentukan. Khalid justru mengemas kajian tersebut dengan cara yang santai dan mudah dicerna anak muda yang mendengarnya.

Khalid tak menampik dirinya kerap menyajikan kemasan baru salafi lewat materi yang dekat dengan keseharian anak muda. Tema ringan seperti nikah muda atau meninggalkan budaya pacaran diakui Khalid menjadi favorit pendengarnya.
 
“Saya hanya menjadikan setiap jemaah yang ada di depan saya semuanya, mau muda mau tua, begitu mereka bubar dari pengajian dia berbekas dan dia berubah,” kata Khalid.

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jejaring ustaz-ustaz salafi yang ada di Indonesia, kata Khalid, telah bersepakat untuk menyebarkan dakwah sunnah kepada masyarakat. Nama-nama lain seperti ustaz Syafiq Riza Basalamah, Ustaz Badrussalam hingga Ustaz Subhan Bawazier menjadi jajaran ustaz Salafi tersohor yang kerap berdakwah sunnah di Indonesia.

Dakwah sunnah sendiri merujuk bagi para ustaz Salafi yang mengajak masyarakat untuk berpegang pada Alquran dan hadis. Khalid menyebut dakwah sunnah merupakan proses dakwah ajaran Islam murni. 

“Untuk itu kami sudah sepakat dakwahnya adalah dakwah salaf atau sunnah. Dakwah yang murni Islamnya. Maka itu yang akhirnya membuat ketemu di satu titik dan Alhamdulillah diterima oleh anak muda,” kata dia.

Khalid mengakui ada penilaian miring dari masyarakat yang menganggap dakwah salafi di Indonesia cenderung bersifat radikal dan dianggap tidak cocok dengan kultur Islam Nahdlatul Ulama (NU). Namun dia menampik bahwa dakwahnya mendapatkan sponsor dari negara lain seperti Arab Saudi.

Khalid menganggap dakwah salafi cocok untuk diterapkan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Agama Islam, kata Khalid, seharusnya dijadikan sebagai tradisi dan budaya di Indonesia, bukan justru sebaliknya.

“Menurut saya bukannya dakwah salafi tidak cocok dengan Indonesia, namun kita semua harus sadar, budaya kita memang harus budaya Islam. Dan jangan budaya di-islamkan, tidak akan ketemu,” kata dia.

Selama 12 tahun berdakwah di Indonesia, tak sedikit kalangan yang menolak kajian Khalid. Ia memaklumi hal tersebut. Ia mengibaratkan Nabi Muhammad juga sempat ditolak selama 13 tahun di Mekkah sebelum kemudian diakui kebenaran ajarannya. 

“Jangankan Nabi Muhammad, video Imam Masjid Haram saja ada yang dislike kalau di Youtube. Jadi wajar saja, tapi itu tak menggoyahkan saya untuk berdakwah,” kata Khalid.

Lulusan Universitas Madinah, Arab Saudi itu mengaku tak menyangka dakwah yang mengadopsi konsep materi perkuliahan ke dalam pengajian makin banyak diterima dan malah menginspirasi anak muda untuk berhijrah.

Khalid sendiri pernah tercatat sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia. Dia mengadopsikan tehnik pengajaran di kampus dengan kajiannya di mimbar ceramah karena tak merasa puas apabila materi dan pengetahuan yang dimilikinya hanya ‘dinikmati’ oleh mahasiswanya sendiri kala itu.

“Jadi kan kalau di kuliah cuma 50 sampai 100 orang mahasiswa. Tapi kalau materi kuliah saya pindahkan ke pengajian dan dibagikan lewat media sosial bisa pengaruhi 200 juta umat islam di Indonesia,” kata Khalid. 

Khalid menyatakan fenomena anak muda yang memilih berhijrah saat ini dipengaruhi beberapa faktor pendorong. Khalid berusaha mengisi celah di kalangan anak muda dengan cara menanamkan pemahaman ajaran Islam sesuai ketentuan yang menyeluruh.

“Jadi mereka menganggap ‘ya saya yang penting muslim, tapi lifestyle-nya, pakaian, cara mereka ngobrol, ekonomi dan semuanya jauh dari agama’. Jadi istilah yang ada sekarang sekuler sebenarnya. Memisahkan negara dengan agama, memisahkan agama dengan kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Khalid mengakui dakwah lewat media sosial lebih efektif ketimbang melalui saluran televisi konvensional. Dulu dua kerap kali dipanggil oleh pelbagai stasiun televisi untuk berceramah. Belakangan aktivitas tampil di layar kaca itu ditinggalkan karena pemanfaatan TV perlahan terabaikan.

Khalid mulai aktif di media sosial, terutama Youtube, sejak 10 tahun silam. Kala itu terbilang jarang ditemukan konten khusus di Youtube yang berisikan tentang ceramah agama Islam. 

Melihat kondisi itu, Khalid lantas menginisiasi kanal Youtube pribadinya ‘Khalid Basalamah Official’. Kanal itu memuat dokumentasi ceramahnya di pelbagai tempat. Sejauh ini, pelanggan kanal Youtube milik Khalid sudah menembus angka 867.572 subscriber dan videonya sudah ditonton lebih dari 50 juta kali.

Khalid mengenang ada seorang pemuda yang menangis dan tiba-tiba memeluknya. Pemuda itu berterima kasih lantaran telah berhasil memberanikan diri untuk berhijrah usai mengikuti kajian-kajian Khalid di lewat media sosial. Pemuda itu juga bercerita soal kondisinya yang sempat dicap gila oleh keluarganya karena belajar agama hanya dari medsos.

“Saya bersyukur, dakwah saya lewat medsos ada efeknya,” kata Khalid.

Khalid memiliki tim khusus untuk menggarap konten di akun Youtube, Facebook dan Instagram. Salah satu pengelolanya bernama Badr TV.

Dimas, salah seorang staf Badr TV, mengatakan timnya punya target mengunggah satu sampai dua konten video ceramah Khalid per harinya ke Youtube. Sedangkan untuk konten instagram dan Facebook sendiri diunggah sebanyak 3-4 kali dalam sehari. Konten itu meliputi video pendek, agenda harian hingga foto-foto dokumentasi.

Dimas mengaku dirinya bersama staf lain hanya digaji dari kocek pribadi Khalid yang juga memilih usaha sampingan kuliner dan travel haji umroh itu. Penyebaran Salafi di Indonesia terjadi seiring dengan kepulangan mahasiswa Indonesia yang telah menempuh studi di Arab Saudi, terutama pada dekade 1980-1990an. Banyak dari mereka melakukan itu atas kesadaran bahwa ajaran Salafi sudah sepatutnya disebarkan. 

Kehadiran dakwah ustaz beraliran salafi mendapat dukungan penuh dari pengurus Masjid Nurul Iman di kompleks Mal Blok M Square. Koordinator Dakwah Masjid Nurul Iman, Fauzar mengatakan pengurus masjid telah mengundang ustaz-ustaz Salafi untuk mengisi kajian rutin di masjid tersebut sejak 10 tahun silam. 

“Dulu di sini semua aliran masuk, ada Jamaah Tabligh, sekte Syiah, Tasswauf sampe kejawen semuanya masuk sini lah. Tapi sekarang semuanya Salafi, yang lama saya bredel semua karena bertentangan,” kata Fauzar.

Dampak kehadiran para ustaz Salafi di Masjid Nurul Iman pun disambut positif oleh jamaah. Fauzar mencatat terdapat lonjakan jamaah yang sangat tinggi di masjid 4.000 meter persegi itu, khususnya anak muda yang mau hijrah.(Fahad Hasan&DBS)