Spread the love

BataraNews.com-Tahun 2019, XL Axiata menggeprak. Perusahaan telekomunikasi yang dinahkodai oleh Dian Siswarini, kini menjadi peringkat kedua setelah Telkomsel. Tak hanya itu, perusahaan telekomunikasi yang memfokuskan kepada kaum melenial ini, telah mengambil beberapa terobosan, lengkapnya, Berikut wawancara dengan Tri Wahyuningsih, Group Head Corporate Communication XL Axiata:

Dapat Ibu jelaskan seputar apa yang telah dilakukan XL Axiata di tahun 2018 lalu, serta kinerja maupun produk yang ditawarkan. Lalu apa rencana maupun strategi yang Ibu lakukan, baik jangka pendek, menengah maupun panjang dalam mendorong dan meningkatkan performance XL Axiata?

Tahun 2018 yang lalu merupakan tahun yang penuh tantangan bagi XL Axiata di tengah persaingan industri yang sangat dinamis. Sepanjang tahun tersebut, kami telah melakukan berbagai inisiatif dan kegiatan untuk mendorong kinerja perusahaan, di antaranya, kami terus konsisten mengimpementasikan Agenda transformasi melalui strategi 3R (Revamp, Rise & Reinvent) yang sudah dilakukan sejak tahun 2015 hingga saat ini.

Revamp – mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari “volume” ke “value”) dan strategi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas produk. Rise – meningkatkan nilai merek XL melalui strategi dual-brand dengan AXIS guna menyasar segmen pasar yang berbeda. Reinvent – akan membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.

Kita juga akan terus melakukan pembangunan infrastruktur jaringan di berbagai wilayah di Indonesia khususnya di luar Jawa, yang bertujuan untuk memperluas dan menjangkau potensi pasar yang baru. Hingga akhir tahun 2018 yang lalu infrastruktur jaringan kami telah didukung lebih dari 118.000 BTS (saat ini sudah mencapai lebih dari 122.000 BTS) dan lebih dari 45 Km jaringan fiber optik.

Selaras dengan fokus XL Axiata untuk menyedia layanan data terdepan di Indonesia, maka XL Axiata juga telah memperluas jangkauan layanan 4G diberbagai wilayah di Indonesia. Sampai akhir tahun 2018 lalu, sudah lebih dari 400 kota/area yang terlayani dengan layanan 4G.

Sedangakan untuk implementasi strategi Dual-Brand yang merupakan salah satu prinsip utama pada Transformasi bisnis yang dijalankan XL Axiata berhasil dilakukan. Merek “XL” berhasil memberikan daya tarik pada kalangan pekerja kantoran maupun pekerja pabrik. Sementara “Axis” terus memiliki daya tarik di segmen anak muda.

Kedua merek masing-masing menawarkan produk layanan data yang terdepan dan terdiferensiasi bagi masing-masing segmenTotal trafik layanan meningkat sebesar 76% dibandingkan tahun sebelumnya.

• Dari sisi produk :

– Paket XTRA Combo berhasul diluncurkan dengan menawarkan kuota YouTube melalui kemitraan dengan Google, kuota 4G bonus dan alokasi menit Any-Net.

– Kartu Perdana XL Super Ngobrol yang menawarkan panggilan on-net gratis tanpa batas dan SMS untuk pelanggan baru.

– AXIS Bronet Owsem, yang menawarkan kuota 4G sebagai bagian dari kuota internet yang sudah ada

– AXIS HITZ yang menarik bagi kaum muda dimana penggunaan WhatsApp, LINE dan Blackberry Messenger tidak terbatas untuk pemakaian sehari-hari.

– Untuk mendorong adopsi smartphone, XL juga menawarkan bundling dengan smartphone dari berbagai merek seperti Samsung, Xiaomi dan lainnya sebagai bagian dari paket dengan langganan satu tahun untuk XTRA Combo, termasuk penawaran smartphone Xtream berikut kuota YouTube dengan harga yang terjangkau bagi pelanggan/masyarakat.

– Penawaran layanan  XL Prioritas dengan program XL Shopping points dan XL Shopping Points Booster

– Paket Haji dan Umroh

Apakah Komitmen XL Axiata pada Pelanggan?

Sebagai bagian dari komitmen untuk terus selalu berinovasi dan selalu adaptif terhadap setiap perkembangan teknologi telekomunikasi terbaru, XL Axiata di tahun 2018 juga telah berhasil melakukan ujicoba teknologi 5G di outdoor pertama di Indonesia.

Tak hanya itu, April 2017 serta ujicoba 5G di Kota Tua Jakarta pada bulan Agustus 2018 yang lalu. Ujicoba ini merupakan bagian dari tahapan untuk melakukan adopsi implementasi teknologi 5G nantinya

Memasuki tahun 2019, XL Axiata juga terus fokus untuk mendorong pencapaian kinerja melalui implementasi strategi 3R tersebut, dan kami bersyukur di kuartal pertama 2019 kemarin, kinerja perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terlihat dari berbagai indikator positif, di antaranya:

  • Akibatnya, pendapatan perusahaan masih tumbuh positif (stabil) 9% YoY = Rp. 5,974 Triliun
  •      EBITDA tumbuh 15% YoY
  •      EBITDA Margin tumbuh 2% YoY
  •      Profit tumbuh sebesar 271%
  •      ARPU (blended) tumbuh 10%
  •      Trafik Layanan naik 70% YoY
  •      Pendapatan Layanan data meningkat 25% YoY
  •      Kontribusi pendapatan layanan data naik, menjadi 86% dari total   service revenue (tahun sebelumnya hanya 77%)
  •      Penetrasi smartphone naik menjadi 84% — 46,3 juta pelanggan
  •      Penambahan infrastruktur BTS tumbuh 15% YoY, termasuk penambahan BTS 4G yang tumbuh sebesar 64% YoY
  •      Trafic layanan tumbuh 70%
  •      Pelanggan meningkat 1% YoY — 55,1 juta.

Saat ini dan kedepan, kami masih akan terus fokus pada implementasi strategi 3R untuk untuk mendorong dan meningkatkan kinerja perusahaan karena strategi ini  merupakan strategi jangka panjang kami guna meningkatkan shareholder value dan keberlangsungan perusahaan (business sustainability).

Dapatkah Ibu memberi gambaran tantangan yang masih akan dihadapi dalam mendorong perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia, baik dari sisi regulasi, bahan baku maupun teknis operasional lainnya. Lalu apa yang akan dikerjakan di tahun ini?

Industri telekomunikasi di Indonesia saat ini menghadapi situasi yang sangat menantang. Kompetisi yang semakin dinamis dan ketat antar operator dalam memberikan pelayanan yang semakin baik bagi masyarakat dan di sisi yang lain juga dituntut untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja ditengah2 perubahanan perilaku masyarakat/pelanggan yang semakin banyak memanfaatkan layanan data dan meninggallkan layanan percakapan (voice) dan SMS.

Ini tentunya menuntut operator untuk semakin jeli dan cermat dalam menjalankan kegiatan operasionalnya sehingga kinerja perusahaan bisa terus ditingkatkan.Namun demikian hal tersebut tidak cukup, karena pencapaian kinerja operator juga banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor external khususnya regulasi dari pemerintah. Sehingga untuk dapat mendorong agar perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia bisa semakin baik.

Tentunya diperlukan dukungan regulasi dari pemerintah misalnya regulasi/pengaturan dari pemerintah mengenai tarif layanan data untuk memastikan tidak terjadinya perang tarif layanan antar operator, regulasi mengenai pembangunan dan pemanfaatan jaringan dengan berbagi antar operator sehingga tercipta efisiensi industri di industri (menghindari operator membangun jaringan di wilayah yang sama.

Padahal akan lebih baik dan hemat bilamana operator bisa membangun di wilayah yang berbeda namun bisa berbagi penggunaannya), kemudian juga perlunya dukungan insentif dari pemerintah bagi operator yang aktif/bersedia melakukan pembangunan jaringan secara konsisten di luar Jawa dan sebagainya. Untuk tahun 2019 ini, XL Axiata masih akan terus fokus untuk meningkatkan bisnis layanan data sebagai fokus utama guna mendorong peningkatan kinerja perusahaan. Karenanya kami juga akan terus memfokuskan untuk membangun infrastruktur layanan data.(Fahad Hasan)