Indomie Nomor Satu, Mie Sedaap Nomor Lima!

Spread the love

BataraNews.com-Kantar Indonesia kembali merilis hasil studi tahunan Brand Footprint sepanjang 2018 lalu yang menyebutkan persaingan produk konsumen atau dikenal sebagai consumer goods di Indonesia kian ketat. Kantar Worldpanel Indonesia adalah salah satu sumber panel riset konsumen dan pembelanjaan yang dilakukan secara periodik dan berkelanjutan.

Marketing Director Kantar, Fanny Muharyati mengatakan hal ini menuntut produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) lebih kreatif untuk memasarkannya agar tetap menempati peringkat sepuluh besar. Brand Footprint merupakan studi tahunan yang dirilis oleh Kantar dengan mengukur merek mana yang paling sering dibeli oleh konsumen. Pilihan konsumen dalam Brand Footprint mengamati jumlah pembelian merek rumah tangga (penetrasi pasar) dan berapa sering merek tersebut dibeli (frekuensi).

Survei Brand Footprint mencakup sektor FMCG, seperti makanan, minuman, perawatan rumah, produk kesehatan dan kecantikan. Dan Coca-cola masih mempertahankan posisi teratas sebagai merek yang paling dipilih di dunia. Peringkat Urban Indonesia juga telah dirilis oleh Brand Footprint, yang mencakup 85% dari total rumah tangga di perkotaan besar.

Venu Madhav, General Manager of Kantar Indonesia, menjelaskan, untuk mendapatkan pertumbuhan bisnis, sangatlah penting bagi suatu merek mendapatkan lebih banyak pembeli dan membuat mereka membeli lebih sering.

“Ini berarti suatu merek harus terus relevan dengan kebutuhan konsumen yang mudah untuk berubah dan selalu dapat mengidentifikasi peluang baru untuk tumbuh,” jelas Venu.

Sementara itu, Fanny mengatakan bahwa studi ini meliputi jumlah pembelian [penetrasi pasar] dan berapa sering produk dibeli. Produk yang disurvei meliputi sektor FMCG seperti makanan, minuman, perawatan rumah, produk kesehatan dan kecantikan.

Menurutnya, pemain FMCG dapat menerapkan beberapa strategi untuk mendapatkan lebih banyak pembeli, seperti menarik pembeli baru untuk merek tersebut, meningkatkan ketersediaan merek ke sejumlah lokasi geografis, atau bahkan bermain di beberapa kategori. Brand Footprint akan mendukung pemain FMCG untuk merancang strategi pertumbuhan lebih akurat.

Ada sembilan fakta kunci Brand Footprint Indonesia di perkotaan besar (masyarakat Urban):

  • Pertama, Indomie terus menjadi merek FMCG yang paling dipilih oleh konsumen di Indonesia Urban selama 7 tahun berturut-turut.

“Hampir semua rumah tangga di Perkotaan besar di Indonesia telah membeli merek ini sekitar 3 -4 kali sebulan. Indomie juga memegang posisi yang kuat di tingkat global, dengan posisi 10 di peringkat Global Brand Footprint 2019,” jelas Fanny.

  • Kedua, So Klin berhasil mengamankan posisi kedua di peringkat Brand Footprint. Jumlah pembeli yang banyak dan strategi promosi yang tepat menjadi faktor utama yang memperkuat So Klin menjadi merek perawatan rumah yang paling dipilih di Indonesia.
  • Ketiga, merek Kapal Api mempertahankan posisi nomor 3 di Brand Footprint. Basis pembeli besar menjadikan Kapal Api sebagai merek minuman paling dipilih di Indonesia Urban.
  • Keempat, produk penyedap makanan menjadi salah satu popular kategori yang paling sering dipilih. Royco di posisi ke-4 dan Masako di posisi ke-9 dalam 10 merek teratas, karena merek-merek ini mendukung kepraktisan dalam kegiatan memasak.
  • Kelima, Mie Sedaap mengamankan posisi kelima. Mie instan telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang familiar di lidah masyarakat Indonesia, harga terjangkau, dan ketersediaan nasional yang luas. Masing-masing faktor ini berkontribusi menjadikan mie instan sebagai favorit seluruh keluarga di perkotaan besar di Indonesia.
  • Keenam, bermain dalam beberapa kategori juga merupakan salah satu strategi merek untuk memiliki kesadaran merek yang kuat. Beberapa merek seperti Frisian Flag (di posisi ke-6), Indofood (di posisi ke-7) dan Lifebuoy (di posisi ke-10) mengamankan posisi mereka dalam peringkat 10 .
  • Ketujuh, Molto juga ada di posisi ke-8. Didukung oleh komunikasi merek (terutama pada conditioner fabric perfume) serta perluasan portofolionya.
  • Kedelapan, kategori makanan mendominasi 10 peringkat teratas, sementara pemain teratas dari produk rumah tangga, minuman, perawatan pribadi dan produk susu juga berhasil mendapatkan beberapa posisi juga.
  • Kesembilan, studi ini menunjukkan merek lokal berhasil membangun kehadiran yang lebih kuat, di mana 50% dari 10 merek teratas berasal dari produsen lokal. Kemampuan pemain lokal untuk mengadopsi dengan cepat ke tren konsumen terbaru memungkinkan mereka untuk lebih produktif dalam meluncurkan inovasi baru ke pasar local. (Fahad Hasan&DBS)