Spread the love

BataraNews.com – Ustadz Syahrul Syah yang saya kenal dulu merupakan ustadz yang sering mengisi kajian yang bertemakan Tazkiyatun Nafs dan Muhasabah, kenang Ahmad salah satu saksi hidup yang pernah beberapa kali mengikuti kajian almarhum ustadz Syahrul Syah saat ia masih duduk dibangku sekolah.

Ahmad berkisah, tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an merupakan tahun-tahun yang ramai dengan acara-acara dan pembinaan keislaman hampir di seluruh sekolah di Jakarta.

Dirinya waktu itu masih duduk dibangku sekolah tepatnya di Sekolah kejuruan teknik di Jakarta dan kerap mengikuti acara-acara yang diadakan Rohis sekolahnya.

Disitulah ia beberapa kali mengikuti kajian Tazkiyatun Nafs dan muhasabah yang diisi oleh Ust. Syahrul Sah. Saat itu Ust. Syahrul syah kerap diundang untuk mengisi acara-acara keislaman di Sekolah sekolah termasuk pernah beberapa kali mengisi sekolahnya.

Materinya yang bertemakan pensucian diri dan muhasabah diri kerap membuat seisi pengajian menitikan air mata sehingga selesai kajian ust. Syahrul Syah, kami melihat satu sama lain mata yang basah oleh tangisan.

Menurut Ahmad, Ust. Syahrul Syah merupakan ustadz panutan yang tidak ada pertentangan antara kata dan perbuatan. Dan itu terbukti dari kabar wafatnya ustadz yang dinilai banyak orang merupakan tanda-tanda kematian yang husnul khotimah.

Berikut ini cerita dan kesaksian keluarga Ust.Syahrul Syah di detik-detik menjelang wafatnya.

Dua hari sebelum kematiannya Ustaz Syahrul Syah tanpa disadari, istrinya membeli kamper banyak sekali, tetapi tidak didapati saat akan digunakan utk memandikan jenazah Sang Ustaz.

Sementara Sang Ustaz sepulang mengisi acara, membeli kaos kaki dan tas di pedagang kaki lima di sepanjang jalan yg ia lewati. Istri heran, dan ketika ditanya mengapa beli semua btang ini banyak sekali? Sang Ustadz menjawab, “Mau dbagi-bagiin aja Mi…”

Dua hari sebelum dipanggil menghadap Allah, Sang Ustaz menelpon ibunya dan keluarganya di daerah Tangsel.

Mengabarkan bahwa tanggal 1 Syawal Ia tidak bisa datang berkumpul di rmh ibu di Tangsel. Saat ditanya kenapa? Sang Ustadz jawab katanya mau berenang, cuma berenangnya di lautan yg luas.

Selama dua pekan sebelum menghadap Rabbnya, Sang Ustaz selalu bilang ke istrinya kangen banget sama teman-teman lama, diantara yg sering disebut adalah Ust. Ibnu Jarir, hingga semalam masih menyebut nama beliau dan katanya ingin segera ketemu banget.

Hari ini Sang Ustaz (1 Syawal 1440 H -red) sedianya mengisi khutbah di daerah Joglo bersama anaknya (Fikri) yg akan menjadi imam Sholat Idul Fithri.

Pagi tadi setelah  mandi bersih dan berwudhu, Sang Ustadz berkata kpd Fikri mau shalat Qiyamullail di atas. Kondisi tdk ada yg berubah segar dan tampak sehat..

Sementara Fikri berkemas menyiapkan segalanya utk dibawa ke mobil.

Usai berkemas, Fikri bermaksud mengingatkan Abinya utk segera berangkat ke tempat sholat ied di Joglo.
Fikri pun bergegas menuju tangga untuk menemui abinya di lantai atas.

Betapa kagetnya Fikri saat didapatinya Abinya sdg duduk tahiyat akhir dgn posisi badan condong kebelakang. Sementara tangan sedikit terangkat dan jari telunjuknya menyisakan posisi sdg menunjuk seperti layaknya seorang yg sedang tahiyat.

Fikri mendekati Abinya dan ternyata Abinya sdh tidak ada, sdh dipanggil oleh Rabbnya…

Selamat Jalan Ust.Syahrul Syah, semoga amal-amal ustadz yang selalu mengingati kami dengan kematian akan menjadi pahala dan bekal ustadz menuju surga Ilahi..Aamiin Ya Robbal Alamin.[azki]