Spread the love

BataraNews.com-Diketahui, pada tahun 2016 terdapat negara-negara donor yang memberikan hibah sebesar USD 2,313,826 atau Rp 94,93 miliar kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag). Namun, pemberian hibah ini diduga janggal. Seperti dalam laporan yang diperoleh Tim Investigator KA, terdapat beberapa negara yang memberikan hibah langsung, di antaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, hibah dari negara Uni Eropa sebesar EUR 1,735,650,00 atau Rp26.053.414.312 dengan nama program hibah TCF yang disetujui pada tahun 2013.

Kedua, hibah dari Pemerintahan Kanada sebesar CAD$ 4,430,878,37 atau Rp41.295.447.889 dengan nama program hibah TPSA, yang disetujui pada tahun 2014.

Ketiga, hibah dari Pemerintahan Swiss dan Belanda sebesar USD 357,500,00 atau Rp4.794.075.000 dengan nama program MPFTIC.

Keempat, hibah dari Pemerintah Australia sebesar AUD$ 2,313,826,60 atau Rp22.785.406.055 dengan nama program hibah AIPEG dan disetujui pada tahun 2009.

Hal yang dinilai janggal adalah ketika setelah penerimaan hibah yang didapatkan dengan total sebesar Rp 94,93 miliar, belum ada berita acara serah terima. Dan, dinilai, besaran atau nilai hibah yang diterima masih tidak jelas. Bahkan dikabarkan, empat pendapatan hibah langsung bentuk jasa yang diterima Pemerintah Indonesia di Kemendag sebesar Rp 94,93 miliar tersebut belum dilaporkan kepada Bendahara Umum Negara.

Akibatnya adalah, pada pendapatan hibah tersebut belum dapat diakui berapa nilai hibah yang diterima Kemendag dan menimbulkan sebuah bentuk pelanggaran terhadap aturan yang ada. Kejanggalan demi kejanggalan ini harusnya menjadi alasan KPK maupun Kejaksaan untuk memastikan pelaporan nilai hibah yang diterima di Kemendag.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)TLJp� ̸#0��N�S>’�=ҧ4��.��|1��`Hb�9�Ix7�p�M\�l���Ƈ���-X�Db,)j$�j��ӏ 8�^]�RM�&� y�W�b�%”�s��� D $! 6�#��?:p���#׹)