Spread the love

BataraNews.com-PT Pembangunan Jaya Ancol (persero) atau yang lebih dikenal dengan nama familiar Taman Impian Jaya Ancol mempunyai core bisnis dalam bidang real estate, rekreasi, perhotelan, dan sarana olahraga. Sebagai perseroan, ternyata Taman Impian Jaya Ancol bukan sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah DKI Jakarta, melainkan juga dimiliki oleh perseroan swasta dan publik yang menanam saham.

Untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri mempunyai saham di Taman Impian Jaya Ancol sebanyak 72 persen, PT Pembangunan Jaya sebanyak 18 persen, dan publik sebanyak 10 persen. Untuk lebih jelas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Taman Impian Jaya Ancol mempunyai 1.151.999.998 lembar saham atau secara nilai nominal menjadi sebesar Rp 1,5 triliun.

Sedangkan PT Pembangunan Jaya punya saham sebanyak 287.999.998 lembar saham atau sebanyak 18 persen dan secara nominal nilainya sebesar Rp 380.1 miliar. Dan, saham publik di Taman Impian Jaya Ancol sebanyak 10 persen atau 18 lembaga atau perorangan. Selanjutnya dari 18 lembaga atau perorangan tersebut, Tim Investigator KA hanya mempublikasikan tiga lembaga atau perorangan yang paling tinggi.

Saham publik yang paling tinggi dimiliki oleh Minna Padi Pasopati dengan saham sebanyak 28.469.600 lembar saham atau 1.78 persen, dan nilai nominalnya sebesar Rp 37.5 miliar.

Kemudian ada saham yang tinggi yaitu Trisna Muliadi dengan memiliki saham sebanyak 27.366.500 lembar atau sebesar 1.71 persen dan nilai nominalnya sampai dengan sebesar Rp 36.1 miliar. Terakhir, Konferensi Waligereja Indonesia atau KWI memiliki saham sebanyak 10.037.500 lembar saham atau sebesar 0.63 persen dan nilai nominalnya sebesar Rp 13.2 miliar. Jadi wajar saja, dengan adanya beberapa saham milik perusahaan swasta dan publik tersebut, ketika masuk Taman Impian Jaya Ancol harga tiket mahal sekali. Itu pun setiap pintu masuk permainan di Ancol harus bayar tiket. Dari setiap pintu, pengunjung harus bayar dengan mahal. Namun, apa bisa Taman Impian Jaya Ancol dinilai “sadis”? Itu mah, terserah publik yang menilai. Makanya orang miskin jangan masuk Ancol, ya?.(Fahad Hasan&Tim Investigator KA)