BataraNews.com – Hasil survey Litbang Kompas yang dilakukan pada 22 Februari – 5 Maret 2019 menunjukkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai politik baru yang paling banyak menerima penolakan masyarakat.

Secara statistik, survey tersebut memposisikan PSI menduduki posisi buncit dalam hal elektabilitas yaitu sebesar 0,9 persen. Survei itu juga menunjukkan responden yang resistan atau menolak PSI mencapai 5,6 persen.

Setelah PSI, ada Perindo dengan elektabilitas 1,5 persen, resistansinya 1,9 persen. Kemudian Berkarya elektabilitas 0,5 persen, resistansinya 1,3 persen. Selanjutnya, Garuda elektabilitas 0,2 persen, resistansinya 0,9 persen.

Menurut pengamat komunikasi politik Ari Junaedi, seperti dilansir jpnn, menjelaskan rendahnya elektabilitas partai-partai baru seperti PSI, Partai Garuda, Berkarya dan Perindo adalah wajar dan normal.

“Selain sebagai ‘new comer’ positioning dan strategi branding mereka pun terbilang tidak tepat. Hal ini terlihat dari tingginya resistansi mayarakat terhadap partai-partai baru termasuk PSI yang dibesut anak-anak milenial,” ujar Ari.

Ari pun menyinggung manuver politik PSI untuk dijadikan contoh. Dia mengaku, sebenarnya dia termasuk yang menaruh harapan besar terhadap PSI di saat-saat awal berdiri. Namun, menurutnya, di tengah-tengah perjalanannya Grace Natalie dkk kerap membuat blunder yang tidak perlu, serta mengganggu soliditas di koalisi partai-partai pendukung capres-cawapres 01 Jokowi – Ma’ruf Amin.

“Pernyataan perda syariah dan poligami yang masuk dalam ranah filosofis keagamaan sebaiknya tidak disentuh PSI di awal kampanye. Dengan cara seperti itu, PSI mengobarkan perang dengan kaum mayoritas,” ujar pengajar di Univesitas Indonesia (UI) itu.

Pakar ‘Akal Sehat’, Rocky Gerung, pernah menyindir PSI dalam acara dialog di tv swasta. Rocky menyebut PSI sebagai partai yang tidak paham mikro politik sehingga manuver politiknya kerap membuat mereka blunder dan makin ditolak masyarakat.(*)