Yenny Wahid Sebut Pendukung 01 Sebagai ‘Silent Majority’ dan 02 Sebagai ‘Noisy Majority’

Spread the love

BataraNews.com – Lewat mimbar Silaturahmi Nusantara Bersatu di Surabaya, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid mengajak kelompok silent majority atau orang-orang yang pasif bersuara untuk melawan radikalisme dan memenangkan Joko Widodo- Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

“Selama ini yang bersuara itu kelompok-kelompok garis keras, kelompok radikal. Mereka sebetulnya minority, minoritas, kecil tetapi mereka noisy. Mereka ribut kecil tapi ribut,” kata Yenny di acara yang dihadiri warga Nahdlatul Ulama ( NU) dan kelompok lintas agama, Senin (18/3) malam.

Dalam pidatonya, putri kedua mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menyayangkan kegaduhan yang didiamkan oleh mayoritas. Hal ini memicu kelompok-kelompok garis keras dan radikal menguasai kelompok yang besar.

“Mayoritas itu silent, mayoritas itu diam, karena itu sekarang mayoritas dari silent majority harus menjadi noisy majority, mayoritas yang tadinya diam harus menjadi mayoritas yang bersuara,” ajak Yenny.

Karena jika tetap diam, maka akan semakin banyak masyarakat yang terintimidasi. Apalagi menjelang tahap pencoblosan 17 April 2019 mendatang, kata Yenny, gerakan-gerakan radikalisme harus dicegah.

“Sekarang banyak masyarakat merasa terintimidasi, mereka ditakut-takuti bahwa tanggal 17 akan chaos, bahwa tanggal 17 akan kacau,” tegasnya.

Yenny menyebut, jika mayoritas pendukung Jokowi-Maruf kuat, maka kemenangan tanggal 17 April bisa dipastikan akan diraih dengan suara besar.

“Yakinlah bahwa kalau kita kuat, kalau kita yakin akan kemenangan kita. InsyaAllah tidak akan ada yang mengintimidasi,” ungkapnya.

“Bapak ibu sekalian harus bersuara semua, bapak ibu sekalian harus berani menunjukkan keberanian, harus berani menunjukkan sikap dan tekad untuk memenangkan pasangan 01, tanpa kebulatan tekad kita, maka kemenangannya tipis. Kita tidak mau kemenangan tipis,” sambungnya.

Sekadar informasi, bukan kali ini saja Yenny mengajak kelompok mayoritas yang selama ini diam untuk bersuara. Sebelumnya di Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada 27 Januari lalu, dia juga menyerukan seruan yang sama: silent majority harus berubah menjadi noisy majority. [sumber]