Spread the love

BataraNews.com – Ratusan warga dari Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) yang tergabung dalam Front Rakyat Sultra Bela Wawonii (FRSBW) berunjuk rasa di Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, Rabu (6/3/2019). Aksi ini sebagai bentuk protes warga terhadap pemerintah yang dinilai enggan untuk mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Sebelumnya, pada Senin (4/3/2019), ratusan warga juga telah datang ke Kantor Gubernur Sultra menyampaikan aspirasi mereka menolak keberadaan IUP, bahkan beberapa warga sempat melakukan aksi kubur diri sebagai bentuk protes.

“Kami warga Konkep resah karena jika tambangnya sudah beroperasi, maka kami tidak bisa lagi untuk bertani, nelayan, dan Konkep tidak bisa menjadi daerah parisiwata karena sudah rusak,” ungkap Mando, dalam orasinya.

Mando mengatakan, warga Konkep sudah sering kali menyampaikan aspirasinya di kantor gubernur, namun tidak pernah berhasil bertemu langsung dengan Gubernur Sultra, Ali Mazi.

“Gubernur hanya mau ketemu dengan warga kalau saat pilkada. Kalau sekarang kami mengeluh, kami tidak didengar,” teriak warga.

Warga meminta Ali Mazi menemui mereka, namun permintaan itu tidak dipenuhi setelah beberapa jam mereka melakukan aksi.

Hal itu membuat warga geram sehingga memberanikan diri menerobos barikade polisi dan Satpol PP. Bentrokan pun tidak terhindarkan hingga membuat seorang warga mengalami cedera pada kakinya.

Selain itu, seorang warga juga tampak pingsan di lokasi bentrokan. Peristiwa itu tidak berlangsung lama, kemudian warga menduduki halaman Kantor Gubernur Sultra. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sultra, Ando Azis, menemui mereka. Dia berjanji akan menyampaikan aspirasi warga kepada Ali Mazi yang saat itu sedang memimpin rapat.

“Intinya aspirasi bapak dan ibu akan kami tindak lanjuti, tapi kita akan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait,” kata Ando Azis.

Kemudian Kepala Polres Kendari, AKBP Jemi Junaidi, meminta warga meninggalkan Kantor Gubernur. “Saya Kapolres Kendari meminta 5 menit meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, mohon maaf kami akan bubarkan,” kata Jemi.

Sebelumnya, pembangunan kawasan industri pertambangan
Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tersebut memang jadi bagian perencanaan pemerintahan Jokowi.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Imam Haryono, mengatakan,seperti dilansir detikcom, dari luas kawasan 5.500 hektar, sebanyak 500 hektar di fase pertama digunakan sebagai lokasi pembangunan smelter atau pabrik pemurnian nikel yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.

“Jadi di Konawe ada kawasan yang khusus untuk industri feronikel. Yang punya PT Virtue Dragon Nickel Industry bangun smelter dua tahap. Pertama bangun 15 tungku kapasitas 600.000 dengan investasi US$ 1 miliar dan butuh lahan 500 hektar,” kata Imam ditemui di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Selain smelter, perusahaan asal China tersebut sudah membangun pembangkit listrik 569 MW di lokasi tersebut. Smelter tahap pertama tersebut bisa menghasilkan 600.000 ton NPG (Nickel Pig Iron), dengan kadar nikel 10-12%.

Power plant butuh 569 MW dan saat ini sudah comissioning. Targetnya 15 tungku (smelter) tahun ini sudah bisa produksi semua. Nah ini sekarang secara simultan sudah masuk tahap dua dengan investasi US$ 2 miliar sampai US$ 2,5 milyar,” ujar Imam.

Kawasan Industri Konawe tersebut untuk industri feronikel, serta diperkirakan akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 18.200 tenaga kerja.(*)