Spread the love

BataraNews.com – Doa Neno Warisman didalam munajat 212 mengundang kontroversi dan viral diperbincangkan. Tidak sedikit yang berkomentar bahwa doa Neno yang salah satunya mengambil kutipan doa Nabi SAW saat di perang Badar tidak pada tempatnya.

Namun tak sedikit pula yang men-amini doa Neno tersebut karena secara esensi, Indonesia tengah mengalami krisis kepercayaan kepada para pemimpinnya yang dinilai sedang men-zhalimi rakyatnya sendiri dan akan terus men-zhalimi rakyatnya jika para pemimpin tersebut tetap diberikan kepercayaan memimpin negeri ini.

Sejatinya, Doa Nabi SAW yang dipanjatkan sesaat sebelum perang Badar dimulai tersebut adalah karena menilai perang tersebut merupakan perang Maha Penting dimana kelompok kecil kaum muslimin tanpa persenjataan memadai melawan ribuan pasukan Kafir Quraisy dengan persenjataan lengkap.

Pada Perang Badar ini pula mentalitas kaum muslimin sedang diuji keimanannya untuk tetap berpegang teguh kepada yang HAQ (kebenaran) dan meninggalkan yang Bathil (Sesat/Salah).

Dari Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Ketika Perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada kaum musyrikin dan mereka berjumlah seribu orang sedangkan para sahabatnya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke kiblat, mengangkat tangan berdo’a kepada Rabbnya:

“Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, datangkanlah apa yang telah engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika Engkau hancurkan kelompok Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”(HR.Muslim)

Maka terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat kedua tangan menghadap kiblat, sampai terjatuh selendangnya dari kedua bahunya, maka datanglah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhudan mengambil selendangnya serta memasangkan kembali di atas pundaknya dan menguatkan di belakangnya sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi bagimu apa-apa yang telah dijanjikan kepadamu.” Maka turunlah ayat:

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. al-Anfal/8: 9).

Maka Allah mendatangkan bala bantuannya, yaitu para malaikat. (HR. Muslim).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Pada suatu hari ada seorang laki-laki dari kalangan kaum Muslim yang mengikuti jejak langkah seorang laki-laki dari kaum musyrik di depan-nya, tiba-tiba dia mendengar suara pukulan cemeti dari atas orang itu dan suara penunggang kuda, ‘Majulah Haizum!’. Lalu dia melihat orang musyrik yang ada di depannya itu dalam keadaan tergeletak/tersungkur dan dia melihat orang musyrik tadi dalam keadaan terpukul hidungnya, sobek wajahnya seperti kena cemeti dan memar seluruhnya. Lalu datanglah seorang Anshar dan menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Benar itu adalah bala bantuan langit ketiga.”

Lalu terbunuhlah pada waktu itu 70 orang dan tertawan 70 orang. (HR. Muslim).[]