Spread the love

BataraNews.com – Suatu hari bada dhuhur, didalam sesi latihan militer, diarea latihan militer pedalaman hutan pegunungan danau Situ Lembang, Tangkuban Perahu, Jawa Barat, sinar matahari terasa panas kering menyengat kulit. Padahal hari-hari biasanya meskipun cuacanya panas, tapi daerah itu tetap berhawa sejuk-sejuk dingin karena daerah pegunungan. Sekalipun cuaca terik, terlihat Komandan Batalyon dan ratusan pasukannya tetap disiplin menjalankan latihan militer.

Setelah memberi arahan dan instruksi kepada pasukannya, Komandan Batalyon bergegas menuju posko komando untuk mengawasi jalannya latihan militer. Dalam perjalanan ke posko, sekonyong-konyong sang Komandan Batalyon melihat ada seorang nenek-nenek yang berjalan dengan berat dan terhuyung tengah berjalan menuju keluar hutan. Sang Komandan Batalyon langsung mendekati, disamping ingin memberitahu agar jangan mendekati area latihan militer, ia penasaran kenapa nenek ini berada sendirian dihutan.

Dilihatnya nenek renta tengah menggendong setumpuk ranting kayu bakar. Mungkin itulah yang membuat si nenek terlihat berjalan berat dan terhuyung. Nenek renta dengan kerutan yang menggambarkan kesulitan hidup di wajah, juga tampak guratan urat tua simbol kerasnya hidup, baginya tulang rentanya tidak untuk istrahat, tapi masih tetap mengais rizki hingga ke dalam hitan. Rasa iba pun langsung menjalar ke seluruh perasaan sang Komandan Batalyon. Bahkan tubuhnya sampai bergetar saking hatinya tertusuk oleh rasa iba yang sangat mendalam.

Spontan sang Komandan Batalyon mengambil toples air minum yang tergantung dipinggang dan ditawarkan kepada si nenek. Komandan berpikir bahwa cuaca terik dan beban kayu bakar dipungung si nenek pasti membuatnya berasa haus. Namun diluar dugaan, dengan cara halus si nenek menolak tawaran tersebut.

“Kenapa menolak Nek? Cuaca kan demikian panas, tentunya nenek haus sekali…?” Tanya sang komandan sambil mendesak agar si nenek mau menerima toples air minumnya. “Ini tidak beracun nek….ini saya minum dulu yaa….glek…glek…glek..nah saya tidak kejang-kejang kan….” lanjut sang Komandan sambil mengusap mulutnya. “Maaf yaa Nak, saya menolak minum bukan karena saya takut racun….tapi karena hari ini saya sedang berpuasa” jawab nenek lirih dan sopan.

Mendengar jawaban si nenek, seketika sang Komandan Batalyon diam mematung. Beliau bagaikan tersengat udang dan juga sekaligus dipatuk mic. Beliau tertegun karena tidak menduga sama sekali, bahwa dalam kerentaannya, si nenek terap bekerja untuk keluarga, namun tidak meninggalkan beribadah. MasyaAllah…

Kali ini tubuh sang Komandan Batalyon bukan sekedar bergetar, tubuhnya lungluai dan luluh bersimpuh ditanah. Air matanya berurai deras membasahi pipi. Kegagahan tubuhnya tidak berarti apa-apa dihadapan tubuh tua renta si nenek. Sang Komandan seperti ditampar oleh si nenek sambil dinasehati bahwa sekeras apapun usahamu mencari duniamu, jangan pernah kau tinggalkan akheratmu. Peristiwa itu selalu terngiang dan hingga saat ini amat membekas dibenak Sang Komandan Batalyon.

Sejak peristiwa itu, sang Komandan Batalyon bertekad bulat. Bahwa jika ia berkesempatan mendapat amanah untuk memimpin negeri ini, ia akan menghilangkan kemiskinan. Sang komandan tidak rela melihat seorang wanita negeri ini hingga diusia renta masih mengais-ngais kayu bakar keluar masuk hutan untuk hidup. Sebab negeri ini di Rahmati oleh Allah SWT, sebagi negeri yang kaya raya sumber daya alam. Dan lebih dari cukup untuk mebuat seluruh rakyat di negeri ini sejahtera jika dikelola secara benar. Pokoknya rakyat negeri ini harus sejahtera. Titik…!!!. Begitulah tekat bulat sang Komandan Batalyon.

Nah, siapakah Komandan Batalyon tersebut ? Namanya adalah PRABOWO SUBIANTO. Kira-kira 33 tahun yang lalu peristiwa itu dialaminya, saat itu beliau berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat sebagai Komandan Batalyon 328 Kostrad. Peristiwa tersebut diceritakan kepada Bunda Neno Warisman oleh Mayor Jendral TNI (purn) Musa Bangun, saksi pelaku peristiwa 33 tahun yang lalu itu.

Yuk kita dukung dan kita doakan, agar tekad bulat sang Komandan Batalyon, PRABOWO SUBIANTO menjadikan negeri ini sejahtera, adil, makmur, diwujudkan Allah azza wajalla. Aamiin yra.(AS)