BataraNews.com – Rabu malam, 13 Februari 2019, telah terjadi aksi penerobosan konvoi mobil Presiden Joko Widodo saat rombongan kendaraan Kepala Negara  lewat di Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat.

Setelah aksi dorong-dorongan antara petugas dengan para pekerja Supir tangki, salah seorang istri dari awak mobil tangki terpantau berhasil menemui Jokowi dan berbincang dengan presiden yang bertahan di dalam mobil.

Saat ingin mendekati dialog itu, wartawan tidak diizinkan mendekat atau mengambil gambar lebih detail.

Sejumlah demonstran lain tidak berhasil merangsek mendekati mobil RI 1 karena dihadang oleh petugas kepolisian dan Paspampres bersenjata lengkap. 

Iring-iringan presiden sempat tertahan sekitar 15-20 menit akibat aksi nekat para demonstran yang kecewa. 

Sejauh ini dilaporkan setidaknya dua orang pingsan dan akan dilarikan ke rumah sakit akibat bentrokan kecil dengan petugas pengamanan. 

Ancaman menghadang mobil Jokowi sempat diutarakan perwakilan massa SP-AMT saat diwawancara kemarin (Selasa, 12/2). “Apabila tidak diselesaikan (kasus PHK), kami terpaksa apabila ada iring-iringan mobil Pak Presiden pasti akan kami hadang, kami akan langsung sampaikan ke Pak Jokowi bahwa persoalan kami ini diselesaikan,” ucap perwakilan SP-AMT, Nuratmo, melansir laman rmol.

Perlu diketahui, Aksi Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) Pertamina kerap melakukan aksi di depan kantor Kementerian BUMN dan Istana Negara untuk menagih hak-hak mereka yang belum diselesaikan oleh pihak perusahaan.

Akibatnya, sudah belasan anak terpaksa putus sekolah karena hak orang tuanya sebagai pekerja awak mobil tangki belum terpenuhi.

“Beberapa dari kami memang anaknya putus sekolah. Secara data kurang lebih yang saya tahu 15 anak putus sekolah karena PHK ini mas,” kata Nuratmo salah seorang perwakilan dari AMT di sela-sela aksi menginap di depan Istana Negara Jakarta, Selasa (12/2).

Para istri AMT juga turut membantu kerja suami. Mereka yang biasanya hanya mengerjakan pekerjaan rumah, kini juga harus ikut bekerja demi menyambung hidup keluarga.

Pekerjaannya bermacam-macam, mulai dari buruh lepas hingga memulung.

Nuratmo mengungkapkan, pekerjaan tersebut dilakukan secara serabutan untuk memenuhi keperluan makan sehari-hari dan biaya anak. (azk)