Spread the love

BataraNews.com – Suriah sejatinya negara yang dahulu damai, aman dan sangat Indah. seorang mantan pemandu wisata memberikan kesaksian tentang wajah Suriah sebelum perang.

Pariwisata berkembang pesat di daerah kami, dengan ribuan orang berkunjung setiap tahun. Kami akan menunjukkan kepada mereka Suriah lama dan baru dan memperkenalkan mereka apa yang dulu dan apa yang telah terjadi, yang juga sangat signifikan.

Di Damaskus, turis suka berjalan-jalan di jalan-jalan kota yang lama dan mengunjungi area pasar yang ramai. Mereka akan menonton “Hakawati” atau pendongeng tradisional, yang akan menceritakan kisah-kisah kuno. Di Dara’a, mereka akan mengunjungi teater Bosra, sebuah teater Romawi kuno yang besar, yang ada dalam daftar semua turis yang datang ke Suriah. Di kota saya, orang akan mengunjungi Citadel of Homs dan banyak situs penting lainnya, termasuk yang religius.

Namun kota kuno Palmyra, di sebelah Homs, adalah favorit saya. Kota itu juga bidang keahlian khusus saya. Lajur di barisan tiang, kuil-kuil dan teater Romawi merupakan beberapa tempat yang menakjubkan. Mereka selalu dekat dengan hati saya. Saya suka menunjukkan wisatawan warisan situs. Saya selalu berusaha memberi mereka citra otentik Suriah – yang  menggambarkan betapa berakarnya sejarah di negara kami.

Saya merasa sangat bangga ketika orang-orang, yang datang dari negara-negara besar seperti Inggris, menganggap negara saya menarik. Turis akan mengatakan kepada saya bahwa mereka sekarang memahami bagaimana sejarah Suriah berkontribusi terhadap agama dan peradaban dunia. Mereka akan menatap dengan mata lebar-lebar ke monumen-monumen yang ada.

Ini adalah kenangan berharga bagi saya. Tapi sayangnya, sekarang—kenangan bangunan-bangunannya sudah menjadi kenangan.

Ketika pertempuran terjadi, saya terperangkap dalam baku tembak ketika saya pulang dari kantor. Salah satu lutut saya hancur tertembak peluru penembak jitu. Saya tidak yakin apakah saya akan bertahan hidup. Saya sekarang memiliki lutut buatan dan sulit berjalan dengan benar tanpa dukungan tongkat berjalan. Keluarga saya dan saya tidak punya pilihan selain melarikan diri dari Suriah setelah kehidupan di Suriah menjadi terlalu berbahaya.

Kini Suriah menjadi medan tempur yang tidak berkesudahan. Ketua Ulama Al Qur’an Syria, Syeikh Muhammad Qurayyim Rajih, memberi pesan kepada umat Islam yang ada di seluruh dunia khususnya Indonesia yang menurutnya punya kesamaan kondisi saat Suriah belum seperti sekarang ini. Inilah pesannya.

“Kami di Suriah dahulu seperti kamu hidup damai sehingga kami lupa karena sudah membiarkan Syiah berkembang secara perlahan. Akhiranya Syiah sekarang memerintah kami, membunuh anak-anak kecil kami dengan kapak dan memperkosa wanita-wanita Ahli Sunnah Wal jama’ah.

Jangan lupa dan jangan sesekali biarkan Syiah berkuasa disana jika tidak ingin terjadi seperti apa yang menimpa kami disini.

Jangan kamu lakukan seperti yang kami lakukan dengan membiarkan mereka (Syiah) berkembang di negerimu. Mereka adalah agenda amerika dan Yahudi.

Penggagas Mereka adalah Abdullah Bin Saba’ (orang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam). Saya akan selalu mendoakan kalian yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Islam Melayu bagian Selatan agar tidak berlaku seperti kami di Suriah.” (azk)