Spread the love

BataraNews.com – Sejatinya, dulu, ketika DPR merancang dan mensahkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) ide besarnya adalah menyediakan payung hukum untuk menangani kasus-kasus penipuan di dunia maya atau online atau yang berkaitan dengan kasus-kasus transaksi online.

Sebelum UU ITE disahkan, pihak berwajib sering kesulitan untuk menetapkan dasar hukum bagi kejahatan-kejahatan online terkait dengan aktifitas keuangan dan bisnis. Maka, UU ITE diharapkan menjadi solusi bagi kasus-kasus yang muncul di era internet dan online ini.

Namun seiring waktu, UU ITE dinilai telah menjadi pasal karet dan alat penguasa untuk membungkam para pengkritik-pengkritiknya yang kerap menyampaikan kritikannya melalu sosial media. Maka, bertumpuklah tugas kepolisian dalam menangani UU ITE dengan kasus yang itu-itu aja yaitu “ujaran kebencian”.

Energi Polisi seakan lebih banyak terkuras pada penanganan kasus tersebut yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa campur tangan pihak kepolisian, namun akhirnya kegaduhan terus terjadi dalam bernegara dan kehidupan warga negara Indonesia.

Polisi semakin luput dengan ide besar UU ITE yaitu memberantas kejahatan-kejahatan dalam transaksi online seperti kasus penipuan online yang baru saja terungkap.

Sindikat penipuan online ratusan juta rupiah akhirnya tertangkap setelah beroperasi lebih dari 1 tahun. Yang mengejutkan adalah otak pelakunya hanyalah tamatan SD.

“Tidak pernah kursus. Belajar otodidak saja. Sudah lebih dari setahun saya jalankan (penipuan online) bersama teman-teman saya,” kata Ronal (26) yang merupakan baru saja tertangkap di Mapolres Pangkep , Sabtu (9/2/2019), seperti dilansir detikcom.

Dalam sekali beraksi, pelaku bisa memperdaya korbannya minimal Rp 500 ribu. Terakhir, ia berhasil menipu seorang warga Pangkep yang lulusan Sarjana Hukum sebesar Rp 121 juta dengan modus jualan bibit unggas (bebek) melalui website. Uangnya pun ia gunakan untuk kebutuhan dua istrinya.

“Paling sedikit Rp 500 ribu. Paling banyak yang kasus ini. Uangnya saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Saya beristri dua kali,” lanjutnya.

Dalam aksinya, ia dibantu dua rekannya, Undru (36) dan Jusriani (28). Meski hanya tamantan SD, Ronal cukup merepotkan dan kerjanya susah terlacak. Selama menjalankan aksinya, baik nomor HP maupun rekening untuk bertansaksi, semua bukan atas nama ketiga pelaku. Mereka mendapatkan rekening ‘bodong’ dengan cara mengupah orang lain untuk membuka rekening dan registrasi nomor HP, lalu ia gunakan dalam beraksi.

Untuk mengungkap kasus penipuan daring ini, Polres Pangkep pun harus melibatkan jajaran Polda Sulawesi Tengah dan Polda Metro Jaya. Pasalnya, pelaku utama diketahui berada di Palu, sementara yang lainnya berada di Bekasi, Jawa Barat.

Polisi masih terus melakukan pendalaman atas kasus ini. Diduga, para pelaku merupakan jaringan penipuan online yang kerap beraksi di seluruh Indonesia dengan berbagai modus. Mulai dari jualan bebek, hingga undian berhadiah melalui sms.

“Yah kami libatkan Polda Sulteng dan Metro jaya. Kami yakin korbannya tidak hanya ini saja. Karena mereka ini pemain lama dengan berbagai modus penipuan lainnya. Kami masih memburu satu pelaku lain,” sebutnya.

Bisa Anda bayangkan, Kalau pelakunya hanya lulusan SD saja sudah secanggih ini dalam melakukan aksinya, bagaimana jika kejahatan ini dilakukan oleh orang-orang yang bergelar sarjana. (azk)