Spread the love

BataraNews.com – Sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa yang disukai-Nya…..”. Abu Dzar Al Ghifari bernama asli Jundub bin Janadah, seorang yang Istiqomah dan revolusioner. Memiliki watak dan tabi’at menentang kebatilan dimana pun berada.  Yang dipilih oleh Allah SWT dalam menerima petunjuk, itu yang membuat perjalannya dalam menemukan Islam terlihat mudah dan singkat.

Abu Dzar berasal dari suku Ghifar, suku yang sangat terkenal dalam soal menempuh jarak yang sangat jauh bahkan tidak ada tandingnya. Malam yang gelap gulita tidak menjadi soal bagi mereka dan celakalah orang yang kesasar dan bertemu dengan kaum Ghifar (kaum perompak).

Menurut riwayat, Abu Dzar termasuk orang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan serta iman kepada Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Pencipta. Ketika Abu Dzar mendengar ada seorang Nabi yang mencela berhala serta pemuja-pemujanya dan menyeru kepada Allah SWT. Abu Dzar pun langsung mencari, menemui dan bersyahadat. Urutannya di kalangan muslimin adalah yang kelima atau keenam dalam memeluk agama Islam, keislamannya termasuk dalam barisan terdepan. Saat Abu Dzar memeluk Islam, Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara berbisik-bisik (diam-diam).

Setelah Abu Dzar memeluk Islam, Rasulullah memintanya untuk kembali kepada kaumnya sambil menunggu perintah Rasulullah. Tetapi apa yang dilakukan Abu Dzar? Dia pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan sekeras-kerasnya, tentang keislamannya. Orang-orang Quraish itu pun berteriak “Tangkap Muslim itu!”. Mereka pun memukuli Abu Dzar sampai hampir mati. Disaat bersamaan Al Abbas (paman Rasulullah) melihat hal tersebut lalu menabrakkan badannya ke badan Abu Dzar untuk melindunginya. Lalu Al Abbas menghadapi mereka dan berkata “Ada apa dengan kalian ini? Apakah kalian mau membunuh seorang dari kabilah Gifar? Padahal selama ini kalian berdagang dan berkomunikasi dengan dunia luar melewati daerah kekuasaan mereka?”. Mereka lalu meninggalkan Abu Dzar dan Al Abbas. Besok paginya Abu Dzar kembali ke tempat yang sama dan berseru sama persis seperti yang ia lakukan kemarin, mereka kembali berteriak “Tangkap Muslim itu!”. Lalu Abu Dzar dipukuli sampai hampir mati sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas menghampiri Abu Dzar dan menabrakkan badannya ke badan Abu Dzar untuk melindunginya dan Al Abbas berkata pada mereka hal yang sama seperti yang dia lakukan kemarin.

Abu dzar kembali kepada keluarganya dan kaum Ghifar. Abu Dzar mulai menceritakan kepada mereka tentang Nabi yang baru diutus  Allah SWT dan membimbing mereka berakhlaq mulia. Satu per satu dari kaum Ghifar masuk Islam. Bahkan Abu Dzar pun menyebarkan Islam kepada suku Aslam.

Hari berganti, Rasulullah hijrah dan menetap ke Madinah bersama kaum Muslimin. Pada suatu hari, rombongan orang yang menunggangi kendaraan dan para pejalan kaki mendekat kota Madinah. Sambil bertakbir, ternyata rombongan dari kaum Ghifar dan Aslam yang dipimpin oleh Abu Dzar. Rasulullah semakin takjub dan kagum kepada Abu Dzar, sambil bersabda “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah dan suku Aslam telah diterima dengan damai oleh Allah”.

Pada suatu hari Rasulullah bertanya pada Abu Dzar “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambi barang upeti untuk diri mereka pribadi?”. Abu Dzar menjawab “Demi yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku”. Rasulullah bersabda “Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu? bersabarlah sampai kamu menemuiku…”. Maka Abu Dzar akan selau mengingat wasiat Rasulullah. Abu Dzar tidak akan menggunakan pedangnya yang tajam melainkan akan menggunakan lidahnya yang tajam demi membela kebenaran.

Saat perang Tabuk menghadapi pasukan Romawi, kebetulan waktu Nabi menyerukan kaum Muslimin untuk berjihad. Saat musim panas yang sangat terik dan tempat yang dituju pun sangat jauh. Sebagian muslim ada yang enggan ikut serta. Bertambah jauh perjalanan mereka, bertambah pula kesulitan dan kesusahan yang diderita. Bila ada yang tertinggal dibelakang mereka berkata “Wahai Rasulullah…..si fulan telah tertinggal”. Maka Rasulullah bersabda “Biarkanlah. Andainya ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya”.

Dari kejahuan terlihat Abu Dzar berjalan kaki bersusah payah menyusul pasukan muslim. Keledai Abu Dzar sudah teramat lelah, lapar dan kehausan karena cuaca yang teramat terik. Hingga tak mampu berjalan lagi, Abu Dzar takut tertinggal langkahnya. Makanya ia berjalan kaki menyusul pasukan muslim. Dibawanya barang-barang dan dipikul diatas punggungnya. Saat Abu Dzar melihat pasukan muslimin dan Rasulullah, ia segera mempercepat langkah kakinya ditengah-tengah padang pasir yang seakan-akan menyala karena terik matahari yang teramat panas. Dipenuhi dengan rasa gembira karena berhasil menyusul mereka. Tersenyumlah beliau melihat Abu Dzar semakin dekat. Sebuah senyuman yang penuh santun dan belas kasihan. Rasulullah pun bersabda “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar ….. Ia berjalan sebatang kara ….. Meninggal sebatang kara ….. Dan dibangkitkan nanti sebatang kara …..”  

Masa Rasulullah berlalu sudah, disusul masa Abu Bakar, kemudian masa Umar. Dalam kedua khilafah ini masih berjalan sikap hidup sederhana dan belum ada penyelewengan-penyelewengan yang berarti. Akan tetapi setelah khalifah terbesar yang teramat adil dan paling mengagumkan di antara tokoh kemanusiaan telah pergi, terasa adanya kehampaan dalam kepemimpinanan. Bahkan menimbulkan kemunduran yang tidak dapat dikuasai dan dibatasi oleh tenaga manusia. Perkembangan agama Islam semakin meluas ke berbagai pelosok penjuru dunia.

Dibawah pemerintahan Utsman bin Affan pembangunan mengalami kemajuan yang pesat. Perkembangan agama Islam yang semakin meluas. Banyaknya para pejabat yang mulai terlena pada kekuasaan dan kekayaan. Dan harta yang dijadikan Allah SWT sebagai pelayan yang harus tunduk pada manusia. Menjadi tuan yang mengendalikan mereka. Maka pergilah Abu Dzar menemui pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta.

Melihat hal ini Abu Dzar, teringat kembali pesan Rasulullah. Untuk tidak menggunakan pedangnya, melainkan Abu Dzar boleh menggunakan lisannya yang lebih tajam dari pedangnya untuk kebenaran. Dan Abu Dzar berkata pada para penguasa yang haus akan kekuasaan, harta dan kemewahan. “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Yaitu ketika emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu disetrikakan ke kening, ke pinggang dan ke punggung mereka. Sambil dikatakan, nah ini dia yang kalian simpan untuk kalian itu, maka rasakan akibatnya” QS. At Taubah ayat 24-35.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan, penguasa Syria poros utama kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan. Memerintah wilayah Islam yang paling subur, paling banyak hasil bumi dan paling kaya dengan barang upetinya. Mu’awiyah telah memberikan dan membagi-bagikan harta tanpa perhitungan. Bertujuan mengambil hati orang-orang terpandang dan berpengaruh. Demi terjaminnya masa depan jabatan dan kekuasaan yang tidak terbatas.

Dengan kedatangan Abu Dzar, dan perkataannya yang lebih tajam dari sebilah pedang. Membuat Mu’awiyah tak enak tidur, tak enak makan dan minum. Dan semakin membuatnya “gerah”. Mu’awiyah pun berkeluh kesah kepada Utsman r.a. melalui surat dan menyatakan “Abu Dzar telah merusak orang-orang di Syria”. Utsman pun mengirim surat balasan dan meminta Abu Dzar datang ke Madinah.

Sesampainya Abu Dzar di Madinah. Utsman pun berkata dengan lembut dan bijaksana “Tinggalah disini, disampingku. Disediakan bagimu unta yang gemuk, yang akan mengantarkan susu pagi dan sore” dengan tegas Abu Dzar menjawab “Aku tidak memerlukan dunia tuan…..”. Abu Dzar pun meminta ijin untuk tinggal di Rabadzah.

Sepanjang hidupnya Abu Dzar menjadikan Rasulullah suri tauladan. Sekuat tenaga menjauhi jabatan dan harta kekayaan.

Saat Abu Dzar mengalami sakaratul maut, bertanyalah pada sang isteri “Kenapa kamu menangis? Bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati?” sang isteri menjawab sambil menangis “Karena kamu akan meninggal, padahal kita tidak punya kain kafan”. Abu Dzar pun tersenyum “Perhatikan saja jalanan. Pasti ada rombongan kaum muslim yang akan mengurus jenazah saya”. Benar saja tak berapa lama rombongan Ibnu Mas’ud r.a. melewati jalan tersebut. Hampir saja menginjak jenazah Abu Dzar. Saat mengetahui hal tersebut, air mata Ibnu Mas’ud pun membasahi pipinya.

Dalam lembaran sejarah Abu Dzar muncul sebatang kara, sebagai satu-satunya orang yang baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita dan di sisi Allah SWT Abu Dzar akan dibangkitkan sebagai tokoh satu-satunya pula dalam hal tersebut.(azk)