Spread the love

BataraNews.com – Seseorang dengan jabatan tertinggi di negara seperti jabatan seorang Presiden pasti memiliki segenap komponen pendukung untuk dapat mengetahui informasi yang berkaitan dengan permasalahan warga negaranya apalagi yang sifatnya bisa diketahui secara kasat mata.

Dengan memiliki jajaran menteri-menterinya yang membawahi segenap bidang hajat hidup orang banyak, tentunya informasi-informasi detil berkaitan dengan hal itu akan mudah diakses oleh Presiden.

Namun, sepertinya kemudahan dan kelengkapan pendukung tersebut tidak berlaku buat Presiden Jokowi. Entah Mentrinya yang enggan memberikan informasi kepada Jokowi atau Jokowi yang enggan mengakses informasi dari Menterinya. Namun biasanya, seperti umumnya organisasi, tanpa diminta pun, selalu ada laporan rutin dari berbagai bidang yang seharusnya ada di meja sang Presiden.

Namun, rupanya untuk mengakses informasi, pola informasi Jokowi masih seperti rakyat biasa yang suka melahap informasi bulat-bulat dari media massa atau koran dan sejenisnya tanpa proses validasi dengan data kementrian yang pastinya ia punya.

Hal ini tergambar dalam kunjungan resmi Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membagikan SK pemanfaatan perhutanan sosial sebanyak 13.976 hektare di Wana Wisata Pokland, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Presiden Joko Widodo sempat berbincang dengan sejumlah penerima seperti dilansir Viva.

Di antaranya adalah Suparno, penerima SK asal Indramayu Jawa Barat. Ada 2 hektare lahan yang ia kelola. Sebanyak 1 hektare ditanami padi dan sisanya adalah jagung. 

Jokowi sempat mempertanyakan mengenai hasil panen jagung di 1 hektare lahan. Suparno mengaku bisa memanen hingga 4 ton. 

“Jagung sekarang harganya berapa?” tanya Jokowi, Jumat 8 Februari 2019.

Suparno mengatakan, bahwa harga per kilogram jagung hanya Rp3.500 saja. “Basah? Iya kan basah itu,” tanya Jokowi. 

“Sudah kering itu, Pak,” jawab Parno. 

Jokowi sempat terdiam dan heran, dengan harga yang disebutkan. Bahkan ia sampai mempertanyakan kembali harga itu apakah untuk jagung basah atau kering. Suparno tetap menjawab sama. 

“Lho biasanya kan kalau saya baca di koran itu harganya naik sudah Rp5 ribu-Rp6 ribu,” kata Jokowi. 

Untuk biaya produksinya saja, dari informasi yang diperoleh Presiden, untuk 1 kg adalah sebesar kurang lebih Rp2 ribu. Suparno mengaku, ia menghitung untuk 1 hektare lahan jagung yang ditanaminya, ia membutuhkan setidaknya 6 kuintal untuk pupuk. 

“Tapi kok di koran harganya sampai Rp5-6 ribu. Di mana sisanya? Apa di pedagang? Atau di tengkulak?” tanya Jokowi yang masih heran. 

Ramai-ramai para petani yang hadir menyebut tengkulak. Termasuk Suparno yang dengan tegas mengonfirmasi hal itu. Dari penjelasan itu, Jokowi mengaku baru memahami. (azk)