Spread the love

BataraNews.com – “Ternyata Permadi Arya alias Abu Janda gembongnya Saracen”, begitu tuding netizen si sosmed dengan tagar #permadiaryabossaracen.

Tagar #permadiaryabossaracen menjadi trending topic setelah Permadi Arya alias Abu Janda melayangkan somasi kepada pihak Facebook karena menurutnya, namanya dimasukkan ke dalam daftar Saracen. Dia juga mengancam menggugat Facebook secara perdata.

“Kami sudah di kantor Facebook di Jalan Gatot Subroto dan tadi somasi kita sudah diterima,” kata Arya kepada detikcom, Jumat (8/2/2019).

Dalam somasi itu, Arya mengultimatum Facebook untuk segera membersihkan namanya dari newsroom Facebook. Dia meminta Facebook untuk segera membuat klarifikasi selambatnya 4 hari setelah somasi dilayangkan.

Kasus ini tentunya merupakan kasus paling tidak enak bagi Permadi Arya khususnya dan orang-orang yang menuduh paling nyaring tentang Saracen pada umumnya.

Sebelumnya, Berbagai teori konspirasi tanah air berpendapat bahwa Saracen itu kontra pemerintahan Jokowi. Saracen sengaja dibuat untuk menyerang pemerintahan Jokowi dengan cara membuat konten-konten kebencian terhadap pemerintahan Jokowi.

Nama Saracen sendiri diambil dari istilah saracen yang digunakan oleh orang Kristen Eropa terutama pada Abad Pertengahan untuk merujuk kepada orang yang memeluk Islam tanpa memandang ras atau sukunya.

Namun pada praktiknya, masih menurut teori konspirasi, isu Saracen dihembuskan hanya sebagai dalil untuk menangkapi aktivis Islam yang kerap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi lewat sosial media.

Kembali ke soal somasi Permadi Arya, Tidak perlu waktu lama, pihak Facebook pun menanggapi somasi Permadi Arya ini.

“Prioritas kami adalah meminimalisir kekuatan grup Saracen untuk menggunakan akun, halaman, dan grup yang disusupi serta mencegah kemungkinan yang berbahaya. Apabila pemilik sah dari akun, halaman, dan grup yang terdampak agar segera menghubungi kami. Kami terbuka untuk menelaah dan mengkaji akun mereka kembali,” ujar Juru bicara Facebook Indonesia, Jumat (8/2/2019) melansir dari Viva.

Dalam keterangan di News Room, Facebook menegaskan mereka memblokir sejumlah akun tersebut berdasarkan perilaku akun tersebut, bukan berlandaskan konten yang mereka posting.

Facebook menegaskan, dalam kasus blokir akun ini, media sosial populer ini mendeteksi orang-orang di balik akun tersebut berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk mewakili diri mereka sendiri.

“Itulah dasar dari tindakan kami,” tulis Facebook dalam News Room mereka. Dalam tindakan tersebut, Facebook memblokir 207 halaman Facebook, 800 akun dan 546 grup serta 208 akun Instagram.(azk)