Spread the love

BataraNews.com – Mandeknya pertumbuhan ekonomi di 5% saat ini bakal menjadi sandungan Jokowi untuk terpilih kembali menjadi Presiden RI untuk yang kedua kalinya.

Banyak pengamat ekonomi berpendapat, diakhir-akhir jabatannya sebagai Presiden sekarang ini sangat mustahil Jokowi mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi ke angka 7% seperti yang pernah dikampanyekan dulu. Bahkan, menyentuh ke angka 7% pun sangat berat menurut
Ekonom Senior Indef Nawir MessiĀ .

Nawir melanjutkan, menurutnya pertumbuhan ekonomi di kisaran 7% dibutuhkan Indonesia untuk keluar dari negara yang terjebak di dalam kategori berpendapatan menengah atau middle income trap. Salah satunya itu bisa didukung melalui investasi, seperti dilansir detikcom.

Sayangnya, dari sisi investasi masih banyak kelemahan. Salah satunya masalah ketenagakerjaan. Dia menyebut kenaikan upah di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Itu membuat orang malas berinvestasi.

“Mau dilihat dari sisi apapun tenaga kerja itu big problem. Di Indonesia terlalu cepat kenaikan upah buruh. Kementerian Pak Hanif (Ketenagakerjaan) mempercepat kenaikan upah buruh ketimbang percepatan produktifitas industri,” ujarnya.

Korupsi juga menjadi hal yang membuat investasi di Indonesia sulit tumbuh, termasuk masalah birokrasi.

“Berdasarkan survei yang dilakukan Bank Dunia tahun lalu, Korupsi menjadi masalah utama dalam menjalankan bisnis, demikian juga dengan birokrasi pemerintahan, meski faktor yang satu ini mengalami penurunan,” jelasnya.(azk)