Spread the love

BataraNews.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan nominal utang Indonesia masih aman dibandingkan negara lain seperti Jepang. Utang Indonesia masih 29,2% dari PDB, sedangkan Jepang memiliki rasio utang di atas 200%.

Namun Ekonom Indef Bhima Yudistira memiliki pandangan yang berbeda. Memang betul Jepang punya rasio utang di atas 200%, tapi lebih dari 50% utang Negeri Sakura tersebut dipegang oleh Bank Sentral Jepang. Sementara sisanya di kisaran 30% dipegang oleh residen atau penduduk Jepang.

“Artinya penduduk Jepang dan Bank Sentral Jepang yang memberi pinjaman ke pemerintahnya. Apa manfaatnya? Ketika ekonomi global memburuk dan mengakibatkan panic sell out di pasar utang, pemerintah Jepang tidak terlalu khawatir. Ibu rumah tangga dan karyawan yang membeli surat utang tinggal mencairkan utang tapi uangnya tidak lari keluar negeri, melainkan berputar di dalam ekonomi Jepang,” tuturnya kepada Okezone.

Bandingan dengan kondisi utang Indonesia, 38,7% surat utang pemerintah dipegang investor asing. Artinya, kondisi global seperti tren kenaikan bunga acuan The Fed, instabilitas geopolitik dan gelombang proteksionisme negara-negara maju sangat sensitif terhadap pasar surat utang di Indonesia.

“Pasar keuangan sangat dangkal, sekali goncang eksternal terjadi kaburlah dana-dana asing di surat utang. Jadi tidak perlu heran kok Rupiah bisa anjlok Rp13.700-Rp13.800 bulan Maret ini,” tuturnya.

Indikator lain yang harusnya dibandingkan adalah rasio pajak setiap negara berbeda. Perlu dicatat dan dipahami bahwa utang bukan dibayar menggunakan PDB. Jadi rasio utang terhadap PDB sebenarnya hanya gambaran umum.

“Faktanya utang dibayar dengan penerimaan pajak. Sementara rasio pajak terhadap PDB hanya 11%. Jadi jangan jauh-jauh membandingkan dengan negara maju (seperti Jepang). Dengan negara ASEAN saja rasio pajak kita salah satu terendah, Malaysia sudah 14,2% dan Thailand 15,7%,” tuturnya.(dtk)