Spread the love

BataraNews.com – Jika di tanah air ada sejumlah komunitas dan Partai bekerja sama untuk menuntut dibuatkan Undang-Undang Anti Poligami, di Tunisia, kelompok wanita berunjuk rasa menuntut disahkannya dan dilegalkannya secara hukum Undang-Undang tentang Poligami.

Dilatar-belakangi dengan banyaknya wanita tunisia yang belum menikah dan keenggananya kaum pria untuk segera menikah membuat angka wanita yang siap menikah namun belum menikah semakin banyak jumlahnya.


Menurut Laporan Nasional Tunisia, data mengungkapkan bahwa jumlah perempuan lajang telah meningkat menjadi lebih dari 2,25 juta, dari total 4,9 juta perempuan di negara ini. Angka itu telah meningkat dari hanya 990.000 pada 1994, dengan usia kehamilan tertinggi di antara wanita usia 25-34.

Data juga menyebutkan jika Tunisia adalah salah satu negara dengan tingkat keengganan untuk menikah tertinggi, dengan angka 60 persen – jauh lebih tinggi daripada rasio negara Arab lainnya.

Kembali kesoal unjuk rasa, Presiden Forum Kebebasan dan Kewarganegaraan Tunisia, Fathi Al-Zghal mengkonfirmasi mengenai aksi demonstrasi tersebut, mengatakan bahwa aksi itu muncul secara spontan dan merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan para perempuan Tunisia yang khawatir akan lajang sampai tua.

Dilansir Middle East Online, Sabtu (2/2/2019), Al Zghal mengatakan bahwa dia juga mendesak dilakukan pengkajian ulang atas semua pasal dalam Undang-Undang Status Pribadi, seperangkat hukum yang menetapkan hak dan kebebasan perempuan di Tunisia, tidak hanya pasal mengenai poligami. Pasal-pasal tersebut termasuk pasal mengenai prosedur perceraian dan penghapusan status-status adopsi, karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Dalam pernyataan yang disampaikan sebelumnya, dia menekankan bahwa para wanita akan berpartisipasi dalam demonstrasi untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas kegagalan Tunisia untuk mengizinkan poligami. Dia menambahkan bahwa “protes itu tidak terkait dengan entitas politik dan tidak dipimpin oleh asosiasi apa pun”.(azk)