Spread the love

BataraNews.com – Nabi Ibrahim lahir di negeri Babilonia. Beliau masih keturunan Syam bin Nuh dan lahir di tengah-tengah masyarakat yang penuh kemusyirkan dan kekufuran. Ayahnya yang bernama Azar adalah seorang pembuat patung berhala. Patung-patung itu kemudian disembah oleh masyarakat. Pada waktu itu, Babilonia dipimpin oleh seorang raja yang bernama Namrud. Ia memerintah dengan kejam dan suka bertindak semena-mena. Ia juga mengakui dirinya sebagai Tuhan. Ia mengeluarkan peraturan yang memerintahkan setiap bayi laki-laki yang lahir agar segera dibunuh. Raja Namrud mendapat firasat, salah seorang bayi laki-laki yang lahir suatu saat akan menggulingkan kekuasaannya. Ia menjadi cemas dan gelisah, khawatir hal itu akan benar-benar terjadi.

Ketika Nabi Ibrahim dilahirkan, beliau disembunyikan di sebuah gua didalam hutan oleh kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin anaknya dibunuh atas perintah Raja Namrud. Nabi Ibrahim dapat bertahan hidup dan dalam keadaan sehat, padahal tidak ada seorangpun yang menjaga dan merawat beliau. Jika beliau lapar dan haus, ia akan menghisap ujung jarinya dan keluarlah madu yng manis. Tentu saja kejadian ini sangat ajaib bagi manusia, tetapi tidak bagi Allah SWT. Karena Allah SWT Maha Berkuasa atas segalanya.

Nabi Ibrahim tumbuh seperti manusia lainnya. Seiring dengan bertambahnya dewasa, bertambah pula rasa ingin tahu beliau. Hingga pada suatu hari beliau bertanya kepada kedua orang tuanya “Wahai ayah, siapakah yang menjadikan diriku ini?”. “Aku dan ibumu yang menjadikanmu, karena kamu lahir di dunia ini disebabkan kami” jawab ayahnya “Lalu siapa yang menjadikan ayah dan ibu?” Nabi Ibrahim kembali bertanya “Ya… kakek dan nenekmu” jawab ayahnya. Demikian seterusnya terjadi Tanya jawab antara Nabi Ibrahim dan ayahnya. Akhirnya sampai pada pertanyaan terakhir “Jadi….. siapakah yang pertama kali menjadikan yang ada ini?” kedua orang tua Nabi Ibrahim tidak bisa menjawab. Mereka sendiri pun tidak tahu. Kepada orang-orang sekitarnya pun Nabi Ibrahim sering bertanya, siapakah yang menjadikan alam semesta ini. Tetapi tidak ada seorang pun di antar mereka yang bisa menjawab.

Suatu malam Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang di langit. Beliau berkata “Inilah Tuhanku”. Namun ketika bintang itu lenyap di siang hari beliau pun berkata “Ini bukan Tuhanku, karena Tuhan tidak akan lenyap”. Begitu pula ketika beliau melihat bulan dan matahari yang begitu besar yang semula diyakininya sebagai Tuhan. Namun ketika kedu benda langit tersebut terbenam, keyakinan itu pun berubah. Bagi beliau Tuhan itu tidak akan lenyap, tidak terbenam dan tidak pula binasa.

Akhirnya Nabi Ibrahim berkeyakinan bahwa Allah-lah Tuhan yang sesungguhnya, yang patut disembah. Untuk membuat hatinya tenang dan mantap, Nabi Ibrahim kemudian meminta bukti bagaimana Allah SWT dapat menghidupkan mahluk yang sudah mati. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengambil empat ekor burung lalu mencincangnya. Setelah itu, masing-masing bagian diletakan diatas bukit yang berbeda. Lalu Allah SWT memerintahkannya untuk memanggil burung-burung itu dan Subhanallah. Burung-burung itu datang terbang mendekat kepada Nabi Ibrahim. Beliau langsung bersujud ketika melihat keajaiban itu. Keimanan beliau pun semakin bertambah kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim pun bersumpah akan menghancurkan berhla-berhala yang disembah kaumnya.

Suatu hari, sebelum kaumnya melakukan upacara persembahan, Nabi Ibrahim pergi menghancurkan berhala-berhala yang jumlahnya kurang lebih tujuh puluh buah. Satu-satunya berhala yang disisakan adalah yang ukurannya paling besar. Dibagian leher berhala itu dikalungkan kapak yang digunakan Nabi Ibrahim untuk menghancurkan berhala-berhala yang lain.

Ketika tiba saat upacara, Raja Namrud dan pengikutnya terkejut melihat tuhan-tuhan mereka hancur berantakan. Raja pun langsung menuduh Nabi Ibrahim yang melakukan semua itu, karena beliau adalah orang yang jelas-jelas menentang perbuatan mereka, yaitu menyembah berhala. Nabi Ibrahim ditangkap dan dihadapkan kepada Raja Namrud. Beliau ditanya ”Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”. Nabi Ibrahim menjawab dengan tegas “Bukan aku yang melakukannya, tapi berhala yang paling besar itu yang telah menghancurkan tuhan-tuhan kalian. Lihat saja. Kapak itu tergantung di lehernya dan tanyakan padanya”. Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, Raja Namrud berkata “Mana mungking berhala itu dapat melakukan semua yang kamu katakan?”. Nabi Ibrahim pun menjawab “Kalau kalian sudah tau dan mengerti bahwa berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa, mengapa kalian menyembah mereka?.

Mendengar perkataan Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka akhirnya menjadi pengikut beliau. Hal ini menimbulkan kemarahan bagi Raja Namrud. Raja memerintahkan prajurit dan pengikutnya untuk membakar Nabi Ibrahim. Allah SWT menolong Nabi Ibrahim. Sekalipun beliau dibakar dengan api yang berkobar-kobar, tak sedikitpun beliau merasa panas apalagi terbakar. Karena dengan kekuasaan Allah SWT, api diperintahkan menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

“Wahai api! Jadilah (kamu)dingin dan penyelamat bagi Ibrahim”. (QS Al-Anbiya ayat 69)

Nabi Ibrahim pun selamat tanpa luka sedikitpun. Setelah melihat peristiwa itu, semakin bertambahlah pengikut beliau. Namun kedua orang tua Nabi Ibrahim tetap tidak mau mengikuti ajakan untuk menyembah Allah SWT. Nabi Ibrahim hanya bisa berdoa kepada Allah SWT dan memohonkan ampun untuk kedua orang tuanya. Setelah itu, Nabi Ibrahim bersama istrinya, Siti Sarah dan keponakannya yang bernama Luth, bergegas meninggalkan Babilonia menuju Palestina.

Sumber : Kisah Luar Biasa 25 Nabi & Rasul