Spread the love

BataraNews.com – Dalam pidato akhir tahun berkepala “Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia”, Ketua Umum PSI Grace Natalie menyatakan partainya tak akan pernah mendukung praktik poligami. Menurutnya, di tengah berbagai kemajuan yang dicapai Indonesia, masih banyak perempuan yang mengalami ketidakadilan.

Grace menyitir riset LBH Apik tentang poligami yang menyimpulkan bahwa pada umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan. Poligami jadi muasal ketimpangan posisi kaum perempuan dan penelantaran anak-anak.

“Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tidak akan ada kader, pengurus, anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami,” katanya dalam forum Festival 11 di Jatim Expo International Surabaya pada Selasa (11/12/2018).

PSI, lanjut Grace, percaya bahwa perjuangan keadilan dan penghapusan diskriminasi harus dimulai dari keluarga. Karenanya, Grace berjanji jika lolos masuk parlemen pada Pemilu 2019 nanti, PSI akan memperjuangkan diberlakukannya larangan poligami bagi pejabat publik di ranah eksekutif, legislatif, yudikatif, dan aparatur sipil negara.

“Kami akan memperjuangkan revisi atas Undang-undang no. 1 tahun 1974, yang memperbolehkan poligami,” ungkapnya tegas.

Di hadapan Sukarno yang istrinya banyak, Aidit terang-terangan menentang pemimpin yang berpoligami.

Pidato ketua umum partai yang mantan presenter itu mengingatkan kembali pada pidato Ketua Umum PKI D.N. Aidit pada 28 September 1965. Kebetulan, dua-duanya sama menyinggung soal poligami.

Kala itu, Aidit berpidato dalam rangka ulang tahun organ sayap mahasiswa PKI, Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), yang juga dihadiri Presiden Sukarno. Di satu bagian Aidit seakan-akan menyindir sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu.

“Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini memang tidak akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang mempunyai empat atau malahan lima orang istri!” teriak Aidit.

Pidato itu kontan bikin hadirin tersentak. Semua tahu belaka bahwa Sukarno berpoligami. Meski tak menyinggung nama, tentu saja kata-kata Aidit itu mudah diterka arahnya.

“Kasar sekali, pernyataan Aidit itu kasar sekali,” kata mantan Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa Maulwi Saelan sebagaimana dikutip laman merdeka.com.

Tak ada yang menduga ketua partai yang jadi sekutu dekat rezim Sukarno itu akan berkata demikian. Selama Sukarno jadi kepala negara, PKI tak pernah menyindir soal poligami sang presiden. Pun demikian dengan Gerwani, organ perempuan yang berafiliasi dengan PKI, yang diketahui menentang poligami.

“Tidak ada. Dikembalikan masing-masing saja. Hanya memang kenapa wanita mau dipoligami. Kan yang rugi wanita,” kata mantan pengurus Gerwani Jawa Timur bernama Lestari sebagaimana dikutip merdeka.com.(tirto.id)