Langkah Hukum “Berkarya” Terhadap Politisi PDIP Didukung Ketua Umum GNMP

Spread the love

BataraNews.Com Gerakan Nusantara Militan Prabowo Sandi (GMNP) sebagai salah satu relawan resmi Prabowo – Sandi dengan register PS-0073 yang dimotori oleh Irfani Rachman Djojosoediro, mendukung langkah hukum yang dilakukan oleh Partai Berkaya (PB) terhadap pernyataan politisi PDIP Ahmad Basrah, yang mengatakan Soeharto adalah guru koruptor.

Ahmad Basrah mengutarakan itu beralasan karena terpancing dengan pernyataan Prabowo yang mengatakan Indonesia korupsinya sudah stadium 4. Irfan yang menjabat sebagai Ketua Umum GNMP menilai pernyataan Ahmad Basrah tidak tepat dengan langsung menyerang pribadi almarhum Soeharto. Padahal bapak Prabowo mengungkapkan situasional saat ini, bukan personal seseorang. Sedangkan, Ahmad Basrah langsung menyerang pribadi mantan Presiden Republik Indonesia kedua almarhum Soeharto.

Dalam pembicaraan via smartphone kemarin siang (5/12/2018) Irfan mengatakan bahwa Ahmad Basrah lupa bahwa dalam indeks korupsi partai-partai. PDIP menempati urutan teratas peringkat korupsi. PDIP sebagai partai penguasa, memiliki banyak politisi dan kepala daerah yang tertangkap tangan oleh KPK. Jika merunut sejarah sebelum nya, saat Megawati berkuasa pun, banyak kasus-kasus korupsi bahkan Mega korupsi, seperti Penilepan BLBI dilakukan oleh politisi PDIP.

Penilepan BLBI yang berjumlah 600 Triliun seperti yang pernah diungkapkan oleh mantan Menko Ekonomi era Megawati yaitu Kwik Kian Gie bahwa penjualan aset negara yang sarat dengan korupsi seperti penjualan Indosat, HI, kapal tengker dan lain-lain, banyak lagi aset-aset yang terjual ke pihak asing pada era itu.

Menanggapi langkah gugatan hukum dari partai berkarya, Irfan sangat mendukung langkah itu agar ke depan tidak lagi ada pihak-pihak yang mengeluarkan statement tanpa dasar dan bukti, dan juga sebagai tolok ukur keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia, keadilan hukum antara partai dan, serta penguasa dengan partai oposisi.

Irfan juga meminta kepada pihak-pihak yang berkompetisi dalam berpolitik untuk menjaga sikap dan sopan santun, serta tidak menjelek-jelekan pemimpin-pemimpin sebelumnya, karena setiap kepemimpinan ada kebaikan dan kelemahan masing-masing. Jika selalu di ungkit-ungkit keburukannya maka Indonesia tidak akan pernah damai dan kegaduhan selalu tercipta oleh para politisi yang haus kekuasaan demi meningkatkan elektabilitasnya dengan cara-cara yang tidak elegan dan beradab.

Soekarno dan Soeharto adalah putra terbaik bangsa Indonesia yang pernah memimpin Indonesia. Soekarno merumuskan Pancasila dan memerdekakan bangsa ini melalui proklamasinya. Soeharto adalah pemimpin yang setia menjaga Pancasila dan mengisinya dengan pembangunan melalui program Repelita. Soeharto juga telah melakukan pembangunan yang terukur dan terencana yang kemudian membawa Indonesia ke era tinggal landas. Tetapi pihak-pihak yang tidak ingin Pancasila Kuat dan Indonesia tinggal landas selalu mengusiknya hingga meletuslah reformasi yang di tunggangi pihak-pihak tertentu yang menginginkan Indonesia selalu gaduh dan kehabisan energinya karena selalu gaduh.

Bahkan di kubu Prabowo sandi, Irfan melihat ada nya persatuan antara keluarga bung Karno (yang diwakili bunda Rahmawati) dan Pak Harto (yang diwakili bunda Titiek). “Ini sangat bagus, bahwa kedepan Indonesia tidak lagi terjadi polarisasi antara Orla dan Orba. Tidak lagi ada pertentangan yang selalu dimunculkan oleh pihak-pihak yang menginginkan Indonesia tetap gaduh dan terus gaduh. Dengan kemenangan Prabowo – Sandi kelak, maka Irfan berharap Indonesia bersatu padu, tidak ada lagi Orla atau orba, tetapi yang ada adalah orde Pancasila atau Orde Persatuan. Soekarno dan Soeharto menjadi Dwi tunggal yang tak terpisahkan. Dengan tangan dingin merekar Indonesia merdeka dan merasakan pembangunan yang masif di berbagai bidang. Bahkan FAO pun pernah menjadikan Indonesia sebagai percontohan dalam membangun sektor pertanian, sehingga Indonesia dapat ekspor pangan, bukan impor. (KS)