Marak di Garut, Ridwan Kamil Janji Berantas LGBT di Wilayahnya

Spread the love

BataraNews.com – Heboh ditemukannya grup Facebook LGBT Garut membuat beberapa instansi pemerintah dan kepolisian berusaha mengungkap kebenarannya. Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna ketika dimintai tanggapan soal keberadaan grup Facebook tersebut mengaku sudah menerima informasi akan hal itu.

Dia pun akan melakukan penyelidikan mencari orang-orang di balik grup tersebut. “Iya (sudah tahu), kami lagi penyelidikan, pasti kami selidiki ini,” katanya saat ditemui Jumat (5/10/2018) malam di cafe Lasminingrat di jalan Pedes Kelurahan Pataruman Kecamatan Tarogong Kidul. Ditemui di tempat yang sama, Dandim 0611 Garut Letkol INF Asyraf Aziz pun mengaku tengah memantau aktivitas grup tersebut seperti dilansir Kompas.

Dandim mengaku telah melihat dan mendalami grup tersebut dengan melihat langsung postingan-postingan dari para anggotanya. Isinya, menurut Dandim, sangat menjijikkan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku prihatin atas munculnya grup penyuka sesama jenis di Facebook yang anggotanya diduga pelajar SMP/SMA asal Kabupaten Garut. Dia berjanji akan memberantas masalah tersebut.

“Prihatin (sekali dengan kemunculan kasus ini),” kata pria yang akrab disapa Emil, di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (9/10/2018).

Emil mengatakan segera menghubungi Bupati Garut Rudi Gunawan untuk menanyakan secara rinci mengenai masalah ini. Dia akan memetakan masalah yang ada sebelum nantinya mengambil langkah penyelesaian.

“Saya komit kita untuk memberantas hal-hal begitu. Apalagi ini di level usia pelajar,” ujar Emil.

Soni MS, Ketua Garut Education Watch mengaku prihatin atas fenomena ini. Apalagi, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2600 orang lebih seperti dikutip Kompas. Soni mengingatkan agar sekolah lebih meningkatkan peran guru BP agar bisa lebih aktif memantau perkembangan psikologi siswa di sekolah dan memantau apakah ada siswanya yang jadi bagian dari grup tersebut.

“Jelas prihatin, apalagi melihat anggota grup ini yang ternyata cukup banyak juga,” katanya. Menurut Soni, fenomena ini harus menjadi tanggung jawab semua pihak mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, ulama dan semua elemen masyarakat. “Meski nama grupnya menyangkut-nyangkut SMP dan SMA, tapi ini jadi tanggung jawab semua bukan hanya Disdik,” katanya. (azki)